Menkeu Yakin IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini Meski Sempat Ambruk Jadi yang Terburuk se-Asia

- Sabtu, 25 April 2026 | 21:00 WIB
Menkeu Yakin IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini Meski Sempat Ambruk Jadi yang Terburuk se-Asia

MURIANETWORK.COM – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, tampak percaya diri. Ia bilang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih punya peluang besar buat menyentuh angka 10.000 tahun ini. Padahal, belakangan ini IHSG lagi tertekan dan sempat anjlok cukup dalam.

“Bisa lah (10.000) ini kan masih gonjang-ganjing. Kalau ekonomi fundamentalnya bagus, (IHSG) nanti naik cepat,” ujarnya di depan wartawan, Sabtu (25/4/2026).

Nah, menurut dia, gejolak yang terjadi di pasar saham sekarang ini lebih banyak gara-gara sentimen negatif dari ekonomi global. Bukan karena ekonomi kita lemah. Jadi, ini lebih ke dampak dari dinamika luar negeri yang lagi kacau.

Pemerintah, kata Purbaya, nggak langsung sibuk ngatur-ngatur IHSG. Yang penting, ekonomi nasional tetap kuat. Soalnya, kalau fundamentalnya bagus, pasar saham bakal naik dengan sendirinya.

“Kalau ekonominya bagus, nanti (IHSG) naik cepat. Makanya fokus saya adalah jaga itu (fluktuasi ekonomi), bukan jaga IHSG,” jelasnya.

Ia nambahin, pada akhirnya pergerakan saham bakal mengikuti kekuatan fundamental ekonomi suatu negara. Jadi, nggak perlu panik.

IHSG Ambruk, Paling Parah se-Asia

Di sisi lain, data terbaru menunjukkan cerita yang agak berbeda. Pada perdagangan Jumat (24/4/2026), IHSG ditutup di zona merah. Bahkan, jadi yang terburuk di kawasan Asia.

Indeks berakhir di level 7.129,49. Turun 3,38% atau 249,11 poin dari hari sebelumnya. Sepanjang hari, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.383,4 dan terendah 7.115,97. Lumayan roller coaster, ya.

Volume transaksi tercatat mencapai 47,12 miliar saham. Nilainya Rp24,33 triliun, dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,68 juta kali. Artinya, banyak banget yang jual beli saham waktu itu.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar