Dolar AS Melemah Tipis Menjelang Rilis Data Inflasi, Investor Waspadai Sikap Hawkish The Fed

- Rabu, 10 Juni 2026 | 09:45 WIB
Dolar AS Melemah Tipis Menjelang Rilis Data Inflasi, Investor Waspadai Sikap Hawkish The Fed

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan tipis pada perdagangan Selasa waktu setempat, di tengah sikap wait and see investor menjelang rilis data inflasi yang dinilai krusial. Data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama arah kebijakan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Pasar bergerak hati-hati, mengingat tekanan inflasi yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat turun 0,13 persen ke level 99,909. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar bahwa data inflasi yang akan dirilis pekan ini dapat memperkuat sikap hawkish bank sentral AS. Pada penutupan perdagangan di New York, euro berhasil menguat menjadi 1,1550 dolar AS, sementara poundsterling Inggris juga naik ke posisi 1,3388 dolar AS.

Di sisi lain, dolar AS justru menguat terhadap yen Jepang dengan diperdagangkan di level 160,36 yen, lebih tinggi dari sesi sebelumnya. Posisi ini kembali menembus angka psikologis 160 yang sebelumnya memicu kekhawatiran akan adanya intervensi dari otoritas moneter Tokyo. Sementara itu, nilai tukar dolar AS terhadap franc Swiss relatif stabil, dan terhadap dolar Kanada mengalami sedikit pelemahan.

Pelaku pasar kini menanti dua laporan inflasi utama AS, yaitu indeks harga konsumen (CPI) untuk bulan Mei yang akan dirilis pada Rabu, dan indeks harga produsen (PPI) pada Kamis. Data pasar tenaga kerja pekan lalu yang menunjukkan kekuatan, ditambah dengan lonjakan harga minyak akibat konflik Iran, membuat investor yakin bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi tahun ini, atau bahkan menaikkannya. Keyakinan ini turut memicu aksi jual obligasi dan mendorong imbal hasil Treasury naik.

José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers, menyebutkan bahwa potensi data CPI untuk meredakan kekhawatiran pasar sangat kecil karena angka yang sesuai ekspektasi pun masih tergolong tinggi. Menurutnya, perkiraan median inflasi sebesar 4,2 persen akan menjadi angka tertinggi sejak April 2023. Sementara itu, inflasi inti diperkirakan tetap mendekati tiga persen.

“Statistik inflasi yang tinggi ini membuat investor bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, saat ia bersiap untuk pertemuan pertamanya sebagai pemimpin bank sentral minggu depan,” ujar Torres. Ia menambahkan bahwa pengamat pasar obligasi sangat memperhatikan sikap Warsh yang dikenal sebagai tokoh garis keras, mengingat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini mencapai 69 persen.

Di benua Eropa, euro sedikit menguat seiring investor mengalihkan fokus ke pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis. Pasar memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi akibat perang Iran. Meskipun keputusan tersebut sudah diperhitungkan, investor akan mencermati pernyataan ECB untuk mengetahui prospek kebijakan ke depan.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Selasa, menjadi 5,50 persen. Langkah di luar siklus ini diambil untuk menopang nilai tukar rupiah di tengah menurunnya cadangan devisa dan lesunya permintaan investor terhadap aset Indonesia. Keputusan tersebut membuahkan hasil, dengan rupiah menguat lebih dari satu persen terhadap dolar AS, menandai kenaikan harian terkuat dalam lebih dari satu tahun.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar