Kabarnya, pemerintahan Trump mengajukan proposal berisi 15 syarat kepada Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Laporan ini pertama kali muncul dari Channel 12 Israel, Selasa malam (24/03), yang mengutip tiga sumber berbeda. Intinya, Washington ingin gencatan senjata.
Menariknya, The New York Times punya cerita serupa. Mereka melaporkan proposal itu dikirimkan ke Teheran lewat Pakistan, berdasarkan informasi dua pejabat yang tahu soal prosesnya. Di dalamnya, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner mengusulkan jeda tembak selama satu bulan. Periode tenang itu akan dipakai untuk merundingkan 15 poin kesepakatan.
Memang, apa isinya? Channel 12 menyebut beberapa poin kunci: Iran harus membongkar program nuklirnya, menghentikan dukungan buat kelompok proksi macam Hizbullah dan Hamas, serta membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional. Tapi, ada satu hal yang belum jelas: apakah Israel sendiri mendukung rencana ini? The New York Times mencatat, hal itu masih jadi tanda tanya besar.
Sebelum kabar ini beredar, Pakistan sudah lebih dulu menawarkan diri jadi tuan rumah perundingan antara Washington dan Teheran. Tawaran itu disampaikan juga pada Selasa lalu.
Trump Klaim Dapat 'Hadiah Besar' dari Iran
Di tengah hiruk-pikuk laporan media, Presiden AS Donald Trump sendiri bersuara. Ia menyatakan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang sedang berlangsung "saat ini." Bahkan, Trump mengklaim Teheran memberinya sebuah hadiah terkait sektor energi.
"Hadiah itu bukan terkait nuklir, melainkan minyak dan gas, dan itu tindakan yang sangat baik dari mereka," kata Trump di Oval Office.
"Bagi saya, itu berarti satu hal, kita sedang berurusan dengan pihak yang tepat."
Trump menyebut Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, plus Witkoff dan Kushner terlibat langsung. Ia yakin Washington sedang bicara dengan "orang yang tepat" di Iran, dan bahwa Teheran ingin capai kesepakatan secepat mungkin. Menurutnya, Iran sudah setuju tidak akan pernah punya senjata nuklir. Ia bahkan menyebut AS telah 'memenangkan' perang.
Namun begitu, Teheran membantah keras adanya negosiasi. Mereka menuduh Trump cuma mencoba memanipulasi pasar keuangan dan minyak. Sebelumnya, Trump sempat menunda tenggat waktu buat Iran buka kembali Selat Hormuz, usai apa yang ia sebut "pembicaraan produktif."
Desakan Macron untuk Berunding dengan Itikad Baik
Di sisi lain, tekanan diplomatik juga datang dari Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron minta Iran berunding dengan "itikad baik" lewat telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Dalam pernyataan di platform X, Macron mendesak Iran terlibat secara konstruktif untuk deeskalasi. Ia ingin ada kerangka yang bisa memenuhi ekspektasi internasional soal program nuklir, balistik, dan aktivitas Iran yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan.
Macron juga menegaskan pentingnya menghentikan serangan Iran yang ia nilai "tidak dapat diterima" terhadap negara-negara tetangga. Ia minta Iran jaga infrastruktur energi dan sipil, serta pastikan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang super vital itu.
Ribuan Tentara Tambahan AS Bersiap Dikerahkan?
Sementara diplomasi berjalan, militer AS tampaknya juga bersiap. Pentagon dikabarkan akan memerintahkan pengerahan ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah. The Wall Street Journal menyebut angka sekitar 3.000 personel, untuk memperkuat operasi terkait Iran.
Reuters juga melaporkan hal serupa. Pasukan tambahan itu disebut berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82 satuan elit Angkatan Darat AS yang punya kemampuan bergerak cepat ke mana saja. Markasnya di Fort Bragg, Carolina Utara. Mereka ahli dalam operasi terjun payung untuk amankan posisi strategis di wilayah bermusuhan.
Para pejabat belum merinci tujuan pasti atau waktu pemberangkatan. Mereka juga menegaskan belum ada keputusan untuk menempatkan pasukan AS langsung di wilayah Iran. Tapi, peningkatan kekuatan ini jelas memberi Presiden Trump lebih banyak opsi. The Wall Street Journal menyebut opsi itu bisa berupa membuka paksa Selat Hormuz atau bahkan merebut pulau-pulau strategis milik Iran.
Pengerahan ini bukan yang pertama. Pekan lalu, AS sudah mengirim 2.500 Marinir dan pelaut dengan kapal serbu amfibi USS Boxer ke kawasan yang sama.
Iran Umumkan Aturan Baru untuk Selat Hormuz
Menanggapi berbagai tekanan, Iran rupanya mengeluarkan aturan baru. Mereka menyatakan kapal-kapal "nonhostile" atau tidak bermusuhan boleh melintasi Selat Hormuz, asal berkoordinasi dulu dengan otoritas mereka. Kabar ini muncul dari sebuah surat yang dikutip sejumlah media, termasuk The Financial Times dan dikonfirmasi Reuters serta AFP.
Isinya jelas. Kapal yang terkait dengan AS, Israel, serta "peserta lain dalam agresi," tidak memenuhi syarat untuk pelayaran damai. Surat itu menyebut Iran telah mengambil tindakan proporsional untuk cegah agresor mengeksploitasi selat itu untuk operasi bermusuhan.
Selat Hormuz, jalur tempat seperlima minyak dunia mengalir, ditutup sejak perang meletus akhir Februari. Ratusan kapal kini mengantre di Teluk Persia. Trump sudah mengancam akan serang pembangkit listrik Iran jika selat tidak dibuka. Sampai saat ini, Teheran belum menunjukkan tanda-tanda akan mengalah.
Artikel ini diadaptasi dari sumber berbahasa Inggris.
Disusun oleh Levie Wardana
Editor: Prihardani Purba
Artikel Terkait
Kemdiktisaintek Dorong Perguruan Tinggu di Kalimantan Manfaatkan IKN sebagai Laboratorium Hidup Terbesar
Komdigi Siap Fasilitasi Akses Internet di 19 Titik Blankspot Jember untuk Dukung Pendidikan
Gencatan Senjata Rusia-Ukraina Langsung Diwarnai Saling Tuduh Pelanggaran
Garudayaksa Juarai Pegadaian Championship Usai Kalahkan PSS Sleman Lewat Adu Penalti