Pencapaian ini juga didukung komposisi produk yang makin optimal. CBDK dinilai sukses memonetisasi portofolio asetnya, terutama dengan meningkatnya kontribusi dari produk ber-margin tinggi di jantung distrik bisnis CBD PIK2.
Dari sisi kekuatan keuangan, fondasi mereka terlihat sangat kuat. Per akhir Desember 2025, total aset CBDK membengkak hingga Rp23 triliun. Neraca yang solid seperti ini memberi mereka ruang gerak untuk terus mengakselerasi proyek-proyek strategis ke depannya.
Lalu, bagaimana prospek jangka panjangnya? CBDK punya modal yang cukup menggiurkan: cadangan lahan seluas 702 hektare di PIK2. Landbank strategis itu menjadi modal utama untuk mengembangkan berbagai proyek residensial dan komersial bernilai tambah di masa datang. Visibilitas jangka panjang mereka terjamin.
Ke depan, optimisme tetap tinggi. Dengan dukungan konektivitas strategis seperti akses ke Bandara Soekarno-Hatta via Tol Kataraja, plus pembangunan infrastruktur berskala besar, PIK2 punya potensi besar. Kawasan ini bukan sekadar hunian, tapi sedang bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru yang mengintegrasikan segalanya bisnis, tempat tinggal, pariwisata, dan gaya hidup modern.
Artikel Terkait
BCA Bagikan Dividen Final Rp34,5 Triliun, Total 2025 Capai Rp41,4 Triliun
Wall Street Rebound Dihantui Data Campuran dan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi
Persiapan Mudik Lebaran 2026: Ban Tepat Jadi Kunci Hemat Daya Mobil Listrik
MR.D.I.Y Indonesia (MDIY) Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun dan Usul Dividen 40%