Wall Street bangkit lagi di sesi Jumat pagi, mencoba pulih setelah kemarin sempat terpuruk. Kenaikan ini terjadi di tengah sorotan investor pada data ekonomi terbaru dan situasi geopolitik yang masih panas.
Konflik di Timur Tengah terus jadi bayang-bayang, sementara para pelaku pasar mencoba membaca arah langkah The Fed. Data yang baru dirilis memberi gambaran yang agak beragam. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi AS kuartal IV tahun lalu ternyata lebih lembek dari perkiraan awal, terutama karena belanja konsumen dan investasi bisnis yang direvisi turun. Tapi, laporan terpisah justru menunjukkan belanja konsumen Januari lalu sedikit lebih hangat dari ekspektasi.
Nah, data campuran itu rupanya belum cukup untuk menggeser ekspektasi pasar soal suku bunga. Analis di LSEG mencatat, mayoritas pelaku pasar sekarang cuma memprediksi satu kali pemotongan suku bunga tahun ini itu pun cuma 25 basis poin. Jauh lebih sedikit dibanding ekspektasi dua kali pemotongan sebelum konflik meletup akhir Februari lalu.
Peter Cardillo, ekonom dari Spartan Capital Securities, punya pandangan yang cukup jelas soal ini.
“Inflasi masih tinggi dan cenderung bertahan. Jika harga energi terus naik, The Fed kemungkinan akan menahan suku bunga lebih lama,” ujarnya.
Pernyataan Cardillo itu seperti menyiratkan bahwa pertemuan The Fed pekan depan hampir pasti tak akan membawa perubahan suku bunga. Lonjakan harga energi, ditambah tekanan harga dari sektor lain dan pasar tenaga kerja yang mulai melunak, benar-benar mempersulit tugas bank sentral.
Sentimen konsumen AS juga ikut merosot. Survei awal University of Michigan menunjukkan angka untuk Maret turun ke 55,5 dari 56,6 di akhir Februari.
Di sisi lain, harga minyak mentah masih bandel bertahan di sekitar level 100 dolar AS per barel. Konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda reda, meski pemerintahan Donald Trump sempat menyatakan konflik bisa segera diselesaikan. Upaya meredam harga lepas pelepasan cadangan darurat oleh IEA dan izin sementara AS untuk membeli minyak Rusia yang tertahan, sejauh ini belum membuahkan hasil.
Pada pukul 10.10 waktu New York, pergerakan indeks terlihat positif. Dow Jones naik 197,09 poin (0,42%) ke 46.874,94. S&P 500 menguat 28,78 poin (0,43%) ke 6.701,40, sementara Nasdaq bertambah 89,51 poin (0,40%) menjadi 22.401,49.
Indeks ketakutan pasar, CBOE VIX, mereda ke 25,37. Semua 11 sektor di S&P 500 catat keuntungan, dengan utilitas memimpin kenaikan sebesar 1,4%.
Namun begitu, ada catatan penting di balik rebound hari ini. Indeks S&P 500 dan Dow masih berada di jalur untuk mencatatkan penurunan mingguan ketiga secara berturut-turut. Jadi, meski hari ini hijau, suasana hati pasar secara keseluruhan belum sepenuhnya cerah.
Artikel Terkait
PT Asri Karya Lestari Tbk Gelar RUPST dan RUPSLB, Sahkan Perubahan Susunan Direksi dan Pengendali Baru
Wall Street Melemah di Awal Pekan, Investor Tunggu Laporan Keuangan Raksasa Teknologi dan Perkembangan Negosiasi AS-Iran
Garuda Metalindo Bagikan Dividen Rp117,2 Miliar, Setara 88,63% Laba Bersih 2025
Garudafood Bagikan Dividen Rp350 Miliar, Rp9,5 per Saham