Kenaikan ini didorong oleh lonjakan pengeluaran selama liburan Tahun Baru Imlek yang lebih panjang. Permintaan untuk jasa perjalanan dan barang-barang diskresioner lainnya memang melesat. Namun begitu, ada catatan penting: inflasi di tingkat produsen justru masih berkontraksi. Pasar kini menunggu, apakah tren kenaikan ini akan bertahan setelah euforia liburan usai.
Kembali ke sentimen domestik, ancaman nyata datang dari asumsi APBN. Harga minyak dunia yang sudah menyentuh 92 dolar AS per barel rekor tertinggi sejak 2020 jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang cuma Rp70 per barel. Selisihnya signifikan.
“Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp 6,8 triliun. Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui USD100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional,”
Ujar Ibrahim. Prediksinya suram.
Berdasarkan seluruh analisis itu, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah akan fluktuatif dan cenderung tertekan. Rentang yang dia lihat adalah antara Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS. Kita lihat saja perkembangannya hari-hari ini.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
BNI Bagikan Dividen Rp13,03 Triliun dan Setujui Buyback Rp905,48 Miliar
IHSG Anjlok 3,27%, Pasar Saham Indonesia Dibanjiri Aksi Jual
Saham RANC Dikendalikan Grup Djarum Setelah Akuisisi Blibli
Krakatau Steel Genjot Infrastruktur Modular untuk Jawab Kebutuhan Sosial