Harga Minyak Meroket Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

- Jumat, 06 Maret 2026 | 07:00 WIB
Harga Minyak Meroket Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

Harga Minyak Melonjak, Konflik Timur Tengah Makin Panas

Reli harga minyak berlanjut. Pada Kamis lalu, harga komoditas energi itu kembali meroket, didorong oleh eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini jelas mengacaukan pasokan dan logistik energi global. Tak sedikit produsen besar di Timur Tengah yang terpaksa memangkas produksi mereka.

Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik hampir 5 persen ke level USD85,41 per barel. Ini jadi kenaikan kelima hari berturut-turut. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) benar-benar meledak dengan lonjakan 8,51 persen kenaikan harian terbesar dalam enam tahun terakhir menjadi USD81,01 per barel. Level tertinggi sejak pertengahan 2024.

“Mengingat tidak ada pergerakan di Selat Hormuz, harga kemungkinan terus merangkak naik. Dengan sejumlah negara harus menutup produksi, pemulihan juga akan tertunda karena produksi tidak bisa langsung kembali penuh. Ini akan menjadi masalah untuk beberapa waktu,”

Begitu analis Mitra Again Capital, John Kilduff, memberi peringatan pada Reuters.

Di lapangan, laporan-laporan serangan terus berdatangan. Sebuah kapal tanker berbendera Bahama, Sonangol Namibe, dilaporkan mengalami kerusakan lambung akibat ledakan di dekat pelabuhan Irak. Sementara itu, serangan rudal dilaporkan menghantam wilayah timur Teheran. Di Dubai, sirene peringatan meraung-raung. Perang jelas sedang melebar.

Pernyataan politik juga ikut memanaskan suasana. Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Axios, menyatakan dia perlu campur tangan dalam pemilihan pemimpin Iran berikutnya.

“Putra Khamenei tidak dapat saya terima. Kami ingin seseorang yang bisa membawa harmoni dan perdamaian bagi Iran,”

katanya.

“Saya harus terlibat dalam penunjukan itu, seperti yang terjadi dengan Delcy di Venezuela,”

tambah Trump.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar