Analis dari Ritterbusch and Associates melihat, selama konflik belum ada tanda-tanda berakhir, tekanan naik pada harga minyak mentah akan tetap kuat. Mereka bahkan memperkirakan, jika pertikaian masih berlanjut pekan depan, WTI berpeluang merangsek ke kisaran USD95 per barel.
Kekhawatiran terbesar tentu saja terpusat di Selat Hormuz. Sekitar seperlima minyak dunia melewati jalur sempit itu. Menurut data pelacakan kapal, sekitar 300 kapal tanker masih terjebak di dalam selat setelah lalu lintas nyaris terhenti total sejak perang pecah.
“Harga minyak akan sangat sensitif terhadap penutupan selat tersebut. Pada akhirnya produksi di wilayah pengekspor akan melambat, dan jika kondisi ini berlanjut hingga pekan depan, pemulihan produksi serta pengiriman setelah selat dibuka kembali juga akan membutuhkan waktu,”
jelas Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial.
Dampaknya sudah mulai terlihat. Irak, produsen terbesar kedua di OPEC, terpaksa memotong produksi hampir 1,5 juta barel per hari karena masalah penyimpanan dan ekspor. Qatar, raksasa gas, sudah menyatakan "force majeure" untuk ekspor LNG-nya. Kata sejumlah sumber, butuh waktu setidaknya satu bulan untuk menormalkan kembali volume produksi.
Tekanan merambat ke pasar produk olahan. Kontrak berjangka diesel AS melonjak 10 persen. Beberapa kilang di Timur Tengah, China, dan India mulai menutup unit pengolahan mereka. Pasar jelas ketakutan akan prospek pasokan bahan bakar yang menipis.
“Serangan tersebut, bersama langkah China mengurangi ekspor bahan bakar, turut mendorong harga minyak lebih tinggi,”
kata Giovanni Staunovo, analis UBS.
Ia menambahkan pasar produk olahan juga mulai menunjukkan tekanan akibat berkurangnya ekspor dari Timur Tengah.
Konflik sendiri memasuki hari keenam dengan intensitas yang mencemaskan. Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel, memaksa warga berlindung. Sehari sebelumnya, kapal selam AS dikabarkan menenggelamkan kapal perang Iran di lepas Sri Lanka, menewaskan puluhan orang. Rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki juga dihancurkan oleh sistem pertahanan udara NATO.
Semua mata kini tertuju ke Selat Hormuz. Jika jalur ini benar-benar macet total, gejolak di pasar minyak mungkin baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Harga Emas Anjlok 1,16% Imbas Dolar dan Imbal Hasil AS Menguat
Wall Street Anjlok Diterpa Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah
Saham Elnusa (ELSA) Cetak Rekor Tertinggi Sejak 2008, Tembus Rp1.050
Analis Prediksi IHSG Alami Tekanan Jual Jelang Akhir Pekan