Khawatirnya, gangguan yang berkepanjangan bisa memicu inflasi sekaligus bikin pertumbuhan ekonomi mandek. Sentimen itu langsung terpantul di sektor-sektor tertentu. Saham maskapai penerbangan, misalnya, ambruk 5,4%, dengan Southwest Airlines terjun bebas 6,9%. Sektor industri, material, dan kesehatan di S&P 500 juga masing-masing kehilangan lebih dari 2%.
Tapi nggak semua sektor terpuruk. Di tengah kepanikan, ada juga yang justru diuntungkan. Indeks perusahaan energi utama AS malah naik 0,6%, didorong prospek pendapatan yang lebih cerah. Saham Chevron meroket 3,9%.
Teknologi juga masih menunjukkan taring. Saham Broadcom melesat 4,8% setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan chip AI-nya bakal tembus USD100 miliar tahun depan. Performa gemilang saham-saham tech inilah yang membuat Wall Street minggu ini masih terlihat lebih baik ketimbang rekan-rekannya di Eropa dan Asia.
Meski begitu, suasana hati pasar tetap waspada. Kalau harga minyak sampai menerobos angka USD100 per barel, kekhawatiran bakal berlipat ganda. Untuk sekarang, para pelaku pasar masih menunggu dan memantau setiap laporan yang mengisyaratkan adanya dialog atau upaya meredakan ketegangan. Semuanya masih sangat cair.
Artikel Terkait
Harga Emas Anjlok 1,16% Imbas Dolar dan Imbal Hasil AS Menguat
Harga Minyak Meroket Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah
Saham Elnusa (ELSA) Cetak Rekor Tertinggi Sejak 2008, Tembus Rp1.050
Analis Prediksi IHSG Alami Tekanan Jual Jelang Akhir Pekan