MURIANETWORK.COM - Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan pada penutupan perdagangan Jumat (20 Februari 2026), didorong oleh aksi penutupan posisi jangka pendek (short-covering) oleh pelaku pasar. Kenaikan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Kontrak berjangka minyak Brent ditutup menguat 0,14 persen di level USD71,76 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS sedikit melemah 0,06 persen menjadi USD66,39 per barel.
Ketegangan Geopolitik Jadi Pendorong Utama
Sepanjang sebagian besar sesi perdagangan, kedua patokan minyak dunia itu sebenarnya bergerak di zona merah. Pasar tampak menahan napas, menanti perkembangan lebih lanjut dari tekanan diplomatik dan militer AS terhadap program nuklir Iran. Ketidakpastian inilah yang kemudian memicu gelombang penutupan posisi spekulatif, mendorong harga untuk bangkit di akhir sesi. Secara mingguan, baik Brent maupun WTI sama-sama telah melonjak lebih dari 5 persen, mencerminkan sentimen waspada yang kian menguat.
Seorang analis pasar energi menggambarkan situasi ini dengan jelas. "Kita terjebak di antara antisipasi soal apa yang akan terjadi antara AS dan Iran dan penyangkalan bahwa serangan benar-benar akan terjadi," tutur Phil Flynn, Analis Senior Price Futures Group.
Prospek Volatilitas Tinggi di Pekan Mendatang
Melihat ke depan, pasar diperkirakan akan tetap bergolak. Tenggat waktu 10 hingga 15 hari yang disebut oleh pihak-pihak terkait, jika tidak diisi dengan kesepakatan, dikhawatirkan akan memicu eskalasi. Analis lain, James Hyerczyk dari FX Empire, menilai pasar sedang berada dalam fase 'wait and see'. Namun, justru kondisi menunggu seperti ini sering kali menjadi bibit lonjakan volatilitas yang tiba-tiba.
Ketegangan kian bertambah dengan adanya laporan bahwa Iran akan menggelar latihan militer laut bersama Rusia di kawasan. Skenario ini mengingatkan pasar pada risiko terburuk: gangguan di Selat Hormuz. Jalur sempit itu merupakan urat nadi energi dunia, yang dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak global.
Hyerczyk memberikan peringatan mengenai dampaknya. Menurut penilaiannya, jika terjadi gangguan distribusi di jalur tersebut, harga minyak mentah berpeluang melonjak tambahan 10-15 persen, di atas kenaikan sekitar 20 persen yang telah terjadi sejak pertengahan Desember.
Dukungan Fundamental dan Sinyal Teknikal
Selain faktor geopolitik, harga juga mendapatkan dukungan dari data fundamental yang ketat. Laporan inventori mingguan AS menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah yang signifikan, sebesar 9 juta barel. Penurunan tajam ini, seperti diungkapkan oleh U.S. Energy Information Administration (EIA), dipicu oleh peningkatan aktivitas pengilangan dan ekspor yang kuat.
Dari kacamata analisis teknikal, tren harga masih mengarah naish. Untuk kontrak WTI bulan April, pergerakan konsolidatif saat ini mengisyaratkan potensi penembusan. Jika level USD67,03 berhasil ditembus secara konvinsif, ruang untuk menguji area resistance di kisaran USD68,11 hingga USD69,37 akan terbuka. Di sisi lain, pasar perlu waspada jika tekanan jual muncul dan mendorong harga untuk menguji level support kunci di sekitar USD64,30.
Dengan demikian, pasar energi global kini seperti berjalan di atas tali, di mana setiap perkembangan berita dari Teluk Persia berpotensi menggoyang keseimbangan dan memicu pergerakan harga yang tajam.
Artikel Terkait
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau
Kebijakan Tarif AS yang Berubah-ubah dan Antisipasi Laporan Nvidia Warna Pasar Asia
Analis Proyeksi Harga Emas Capai USD 6.000 per Ons pada Akhir 2026