Ketegangan kian bertambah dengan adanya laporan bahwa Iran akan menggelar latihan militer laut bersama Rusia di kawasan. Skenario ini mengingatkan pasar pada risiko terburuk: gangguan di Selat Hormuz. Jalur sempit itu merupakan urat nadi energi dunia, yang dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak global.
Hyerczyk memberikan peringatan mengenai dampaknya. Menurut penilaiannya, jika terjadi gangguan distribusi di jalur tersebut, harga minyak mentah berpeluang melonjak tambahan 10-15 persen, di atas kenaikan sekitar 20 persen yang telah terjadi sejak pertengahan Desember.
Dukungan Fundamental dan Sinyal Teknikal
Selain faktor geopolitik, harga juga mendapatkan dukungan dari data fundamental yang ketat. Laporan inventori mingguan AS menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah yang signifikan, sebesar 9 juta barel. Penurunan tajam ini, seperti diungkapkan oleh U.S. Energy Information Administration (EIA), dipicu oleh peningkatan aktivitas pengilangan dan ekspor yang kuat.
Dari kacamata analisis teknikal, tren harga masih mengarah naish. Untuk kontrak WTI bulan April, pergerakan konsolidatif saat ini mengisyaratkan potensi penembusan. Jika level USD67,03 berhasil ditembus secara konvinsif, ruang untuk menguji area resistance di kisaran USD68,11 hingga USD69,37 akan terbuka. Di sisi lain, pasar perlu waspada jika tekanan jual muncul dan mendorong harga untuk menguji level support kunci di sekitar USD64,30.
Dengan demikian, pasar energi global kini seperti berjalan di atas tali, di mana setiap perkembangan berita dari Teluk Persia berpotensi menggoyang keseimbangan dan memicu pergerakan harga yang tajam.
Artikel Terkait
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026
Triniti Land Group Akan Akuisisi Mayoritas Saham Prime Land untuk Perkuat Bisnis Hospitality
Sido Muncul Bagikan Dividen Rp1,09 Triliun untuk Tahun Buku 2025
IHSG Menguat Tipis, PEGE dan HDFA Melonjak di Atas 34%