Kondisi 'higher for longer' ini suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama langsung berdampak. Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke kisaran 97,7 dan otomatis menekan aset-aset berisiko, termasuk kripto. Data dari CME Group lewat FedWatch Tool pun menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga sebelum Juni berada di bawah 50%. Angka itu jelas mencerminkan kehati-hatian pasar.
Di tengah semua gejolak global, Antony justru menyoroti pentingnya stabilitas kebijakan dalam negeri. Ia menilai keputusan suku bunga Bank Indonesia yang bertahan di kisaran 4,75–5,5% turut membantu menjaga likuiditas dan kepercayaan investor lokal.
Ia melihat momen ini justru bisa jadi peluang bagi investor untuk merencanakan portofolio dengan lebih matang.
Menyikapi volatilitas yang mungkin berlanjut, Indodax mengimbau investor untuk tetap rasional. Penerapan manajemen risiko yang disiplin jadi kunci. Strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) investasi bertahap secara rutin dinilai masih relevan untuk memitigasi guncangan harga di tengah tekanan faktor makroekonomi global yang belum jelas ujungnya.
Artikel Terkait
Komisaris Utama TOBA Bacelius Ruru Mundur untuk Regenerasi
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026
Triniti Land Group Akan Akuisisi Mayoritas Saham Prime Land untuk Perkuat Bisnis Hospitality
Sido Muncul Bagikan Dividen Rp1,09 Triliun untuk Tahun Buku 2025