Bitcoin kembali bergerak turun. Dalam 24 jam terakhir, harga aset kripto terbesar itu terkoreksi, menyentuh level sekitar USD 66.450 atau kalau dirupiahkan kira-kira Rp 1,11 miliar. Penurunan ini terjadi setelah notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) AS beredar dan memicu sentimen negatif di pasar.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menanggapi pergerakan ini dengan cukup tenang. Menurutnya, koreksi pasca-rilis FOMC adalah hal yang wajar dan sifatnya cenderung sementara.
Antony menambahkan bahwa area USD 64.000 merupakan titik support kuat berdasarkan pola historis. Fase konsolidasi seperti ini, katanya, justru sering menjadi fondasi sebelum pasar kembali menguat.
Lalu, apa isi notulensi FOMC yang bikin pasar ciut? Rupanya, meski mayoritas pejabat The Fed sepakat mempertahankan suku bunga, ada perbedaan pandangan yang cukup mencolok soal langkah ke depan. Sebagian masih membuka peluang kenaikan suku bunga kalau inflasi bandel, sementara yang lain justru memberi sinyal pemangkasan jika tekanan harga mereda.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Harapan Negosiasi Damai di Timur Tengah
BSA Logistics Resmi IPO, Kumpulkan Rp304 Miliar untuk Akuisisi
Presiden Prabowo Serukan Hemat Energi dan Transisi ke Listrik Meski SDA Melimpah
Komisaris Utama TOBA Bacelius Ruru Mundur untuk Regenerasi