Pemerintah Gelontorkan Rp1,7 Triliun untuk Revitalisasi Tebu dan Perketat Impor Gula

- Kamis, 09 April 2026 | 02:15 WIB
Pemerintah Gelontorkan Rp1,7 Triliun untuk Revitalisasi Tebu dan Perketat Impor Gula

Pemerintah akhirnya ambil ancang-ancang. Tata kelola gula nasional, yang selama ini carut-marut dari hulu ke hilir, kini dapat perhatian serius. Bukan cuma soal produktivitas yang rendah, tapi juga persoalan distribusi dan tata niaga yang dinilai tidak sehat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ada tiga strategi utama yang bakal dijalankan. Mulai dari program bongkar ratun, pengendalian impor lewat kebijakan Lartas, sampai revitalisasi industri gula secara besar-besaran. Langkah ini dia sampaikan usai mengikuti rapat dengan Komisi VI DPR, Rabu lalu, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus melindungi petani tebu dalam negeri.

Di sisi hulu, masalahnya mendasar sekali. Tanaman tebu kita kebanyakan sudah tua dan tidak produktif lagi. Evaluasi nasional menunjukkan fakta yang cukup memprihatinkan.

“Kami sudah sampaikan bahwa, setelah kami mengevaluasi tahun 2025 atas arahan Bapak Presiden, kami mengecek tebu-tebu kita seluruh Indonesia, 70 sampai 80 persen itu tidak layak. Sehingga kita lakukan bongkar ratun. Dan Bapak Presiden meminta kami untuk membantu petani-petani tebu Indonesia. Kami langsung anggarkan Rp1,7 triliun di 2025, kita lanjutkan di 2026,” ujar Amran.

Bayangkan, dari total sekitar 500 ribu hektare lahan tebu nasional, lebih dari 300 ribu hektare-nya adalah tanaman lama. Itu jadi penghambat utama peningkatan produksi.

“Rencana kami bongkar ratun karena 300 ribu lebih dari 500 ribu hektare itu tanaman lama. Tidak mungkin produksinya bisa naik. Sehingga petani tidak bisa untung,” tegasnya.

Sebagai bentuk keberpihakan, pemerintah memberikan subsidi untuk program itu. Targetnya 100 ribu hektare per tahun, dan diharapkan selesai dalam tiga tahun ke depan.

Namun begitu, pembenahan tak cuma di hulu. Di hilir, ada anomali yang bikin geleng-geleng. Di tengah kebutuhan impor, gula lokal justru nggak laku. Molase pun ikut terpuruk.

“Yang kedua, yang juga seperti anomali. Satu sisi kita impor gula, tetapi anehnya gula kita tidak bisa laku. Molase kita tidak bisa laku. Dulu harganya molase itu Rp1.900 per liter, Maret 2026 turun sampai Rp1.000. Ada apa? Kemudian gula tidak bisa laku,” tutur Amran.

Dampaknya langsung terasa. BUMN sektor gula seperti PTPN pun terpukul, bahkan disebutkan merugi ratusan miliar rupiah. Menurut Amran, ini terjadi karena ada rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi.

“Rembesannya kita tangkap di Jawa Tengah, kemudian Kalimantan Selatan, dan beberapa daerah lainnya, rembesan gula rafinasi tetapi dikategorikan dimasukkan ke pasar sebagai white sugar, gula konsumsi. Ini membahayakan,” katanya.

Sebagai respons, Presiden langsung perintahkan penerapan kebijakan Larangan dan Pembatasan (Lartas). Tujuannya jelas: mengendalikan arus dan menutup celah penyimpangan. Amran juga minta BUMN terlibat dalam pengendalian distribusi agar pengawasan lebih efektif.

Strategi ketiga adalah revitalisasi besar-besaran industri gula nasional. Ini untuk memperkuat ekosistem dari ujung ke ujung secara berkelanjutan.

Dengan tiga jurus itu, Amran optimis. Swasembada gula konsumsi, katanya, bisa dicapai dalam waktu dekat.

“Kita perbaiki tanaman. Itu mutlak. Tiga tahun berturut-turut. Dan kalau kita lakukan, insya Allah white sugar, swasembada paling lambat tahun depan,” katanya.

Angkanya memang semakin mendekat. Produksi gula nasional sekarang sekitar 2,6–2,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 2,8–2,9 juta ton. Selisihnya tinggal 100-200 ribu ton lagi. Tapi, kebutuhan gula nasional secara keseluruhan jauh lebih besar, mencapai 6,7 juta ton jika ditambah gula untuk industri.

Amran mengingatkan, keberhasilan swasembada bukan cuma soal angka produksi. Tata kelola yang adil dan berpihak pada petani sama pentingnya.

“Aneh banget kan? Tolong deh, kalau ada yang main-main, jangan permainkan nasib orang kecil,” tuturnya.

Dia menutup dengan menegaskan capaian sektor pangan saat ini adalah hasil kerja keras bersama. Stok beras nasional, misalnya, disebutnya berada di level tertinggi sepanjang sejarah.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar