Kesuksesan Como 1907 menembus Liga Champions UEFA untuk pertama kalinya dalam sejarah klub tidak lepas dari peran seorang arsitek muda bernama Cesc Fabregas. Tim promosi dari Serie B itu memastikan tiket ke panggung Eropa tertinggi setelah menghancurkan Cremonese dengan skor telak 4-1 pada pekan terakhir Serie A 2025/2026, ditambah hasil kekalahan AC Milan dari Cagliari yang menguntungkan posisi mereka di papan atas klasemen.
Kisah Fabregas bersama Como merupakan narasi kesetiaan yang langka dan unik di dunia sepak bola modern. Ia bergabung dengan klub kecil di tepi Danau Como pada tahun 2022, bukan sebagai pelatih bintang, melainkan sebagai pemain yang ingin menemukan kembali kecintaannya terhadap olahraga ini. Setelah gantung sepatu, ia langsung mengambil alih kursi kepelatihan tanpa jeda berarti.
Hasil kerja kerasnya sungguh mencengangkan. Fabregas berhasil membawa Como promosi ke Serie A sebagai runner-up Serie B, lalu pada musim perdana mereka di kasta tertinggi Italia musim 2024/2025, tim finis di peringkat kesepuluh posisi yang sudah tergolong aman bagi tim promosi. Musim berikutnya, 2025/2026, Como melesat ke posisi lima besar dan merebut tiket Liga Champions yang sebelumnya hanya menjadi mimpi.
Fabregas sendiri tidak menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut pencapaian ini terasa sangat spesial karena diraih bersama skuad yang mayoritas pemainnya berusia di bawah 23 tahun. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendekatan jangka panjang dan kepercayaan terhadap pemain muda dapat menghasilkan prestasi gemilang.
Sementara itu, di balik kesuksesan di atas lapangan, manajemen Como bergerak cepat untuk memastikan Fabregas tidak tergoda meninggalkan klub. Como yang dimiliki oleh Hartono Bersaudara, bos Djarum Group asal Indonesia, menawarkan kenaikan gaji signifikan untuk mengamankan jasa sang pelatih dari incaran klub-klub besar Eropa.
Menurut laporan yang beredar, Como menawarkan gaji baru sebesar lima juta euro per musim, atau setara sekitar Rp92,6 miliar. Angka ini merupakan kenaikan drastis dari kontrak sebelumnya dan menjadikan Fabregas salah satu pelatih bergaji tertinggi di Serie A. Kenaikan tersebut bukan tanpa alasan. AS Roma tercatat pernah mendekati Fabregas sebagai kandidat utama pengganti Claudio Ranieri, sementara Bayer Leverkusen juga sempat melirik namanya sebelum akhirnya memilih Erik ten Hag.
Como menolak mentah-mentah semua pendekatan itu dan meresponsnya dengan kontrak baru yang berlaku hingga musim panas 2028. Laporan dari Gianluca Di Marzio dan Sky Sport Italia menegaskan bahwa Fabregas tidak hanya mendapat kenaikan gaji, tetapi juga tugas lebih besar dalam pengelolaan tim. Ini merupakan bentuk kepercayaan penuh dari Hartono Bersaudara kepada pelatih muda berbakat mereka.
Catatan mengesankan Fabregas pun patut diapresiasi. Ia berhasil mengukir sejarah dengan membawa Como 1907 lolos ke Liga Champions musim 2026-2027 untuk pertama kalinya sepanjang eksistensi klub tersebut. Sebuah pencapaian yang mengubah status Como dari tim promosi menjadi peserta panggung Eropa tertinggi dalam waktu singkat.
Artikel Terkait
Nama Nenad Bacina Muncul dalam Bursa Calon Pelatih PSM Makassar Musim Depan
BMKG: Cuaca Jakarta Saat Idul Adha Cerah Berawan, Hujan Ringan di Malam Hari
Industri Tambang Desak Kepastian Hukum Transisi Ekspor ke Badan Baru PT Danantara
Blackout Bukan Hanya di Indonesia: Pengamat Soroti Gangguan Listrik di Negara Maju dan Pentingnya Penguatan Sistem Kelistrikan Nasional