Sebelumnya, SHFE sebenarnya sudah meluncurkan rencana internasionalisasi Mei lalu. Salah satu poinnya adalah mengizinkan investor luar negeri menggunakan valuta asing sebagai jaminan untuk transaksi dalam yuan. Selama ini, pembatasan modal asing sering dituding sebagai biang keladi kegagalan China meraih peran lebih besar di pasar global.
Menurut penilaian SHFE, kehadiran modal asing di pasar berjangka domestik diharapkan bisa menguatkan daya penetapan harga komoditas China. Selain itu, juga bisa memperbaiki manajemen risiko logam non-ferrous dan mendorong penemuan harga nikel yang lebih baik.
Namun begitu, catatan masa lalu menunjukkan upaya China membuka pasar berjangka komoditasnya belum sepenuhnya sukses. Ambil contoh Bursa Energi Internasional Shanghai, unit dari SHFE, yang sudah menawarkan kontrak tembaga dalam yuan sejak 2020 dan kontrak minyak mentah sejak 2018. Dampaknya terhadap dominasi bursa internasional masih terbatas.
Ada sedikit cerita yang agak berbeda dari Bursa Komoditas Dalian. Mereka mengizinkan investasi asing untuk kontrak berjangka bijih besi pada 2018, dan langkah itu terbilang sedikit lebih berhasil.
Jadi, langkah terbaru buka akses untuk nikel dan litium ini bisa dibilang ujian lagi. Akankah kali ini hasilnya lebih menggigit? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
CBDK Catat Laba Bersih Rp1,36 Triliun, Melonjak 48% di 2025
BCA Bagikan Dividen Final Rp34,5 Triliun, Total 2025 Capai Rp41,4 Triliun
Wall Street Rebound Dihantui Data Campuran dan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi
Persiapan Mudik Lebaran 2026: Ban Tepat Jadi Kunci Hemat Daya Mobil Listrik