Rupiah Merangkak Naik di Tengah Gejolak Global dan Isu Pergantian Pimpinan The Fed

- Senin, 26 Januari 2026 | 16:15 WIB
Rupiah Merangkak Naik di Tengah Gejolak Global dan Isu Pergantian Pimpinan The Fed

Rupiah akhirnya menutup perdagangan Senin dengan catatan hijau. Mata uang kita menguat 38 poin, atau sekitar 0,23 persen, ke level Rp16.782 per dolar AS. Ini jadi secercah kabar baik di tengah situasi pasar yang cukup bergejolak.

Lalu, apa yang mendorong penguatan ini? Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, sentimen dari luar negeri punya peran besar. Ketegangan antara AS dan sekutu NATO soal Greenland lagi-lagi mengguncang pasar global. Retorika Presiden Trump tentang kepentingan strategis AS di Arktik disebut-sebut memperkeruh hubungan transatlantik.

“Retorika Trump tentang kepentingan strategis AS di wilayah Arktik telah memperketat hubungan transatlantik, memicu kekhawatiran tentang dampak diplomatik dan ekonomi yang lebih luas,” jelas Ibrahim dalam risetnya.

Belum cukup sampai di situ, Trump juga kembali memanas-manasi urusan perdagangan. Akhir pekan kemarin, dia mengancam akan mengenakan tarif gila-gilaan tepatnya 100 persen pada barang-barang Kanada. Itu semua gara-gara Ottawa dianggap masih mau menjalin kesepakatan dagang dengan China.

Di sisi lain, pasar juga sedang fokus menunggu keputusan The Fed. Rapat kebijakan bank sentral AS itu akan berakhir Rabu nanti. Mayoritas pelaku pasar sudah mengantisipasi suku bunga bakal dipertahankan. Tapi, yang bakal dicermati betul-betul adalah pernyataan dan petunjuk dari Ketua Jerome Powell. Investor ingin tahu kapan dan seberapa cepat The Fed berencana memangkas suku bunga nanti, mungkin di akhir tahun.

Nah, soal The Fed ini, Trump lagi-lagi bikin kejutan. Dia mengaku sudah selesai mewawancarai calon ketua The Fed yang baru dan bahkan sudah menentukan pilihannya. Pengumuman resminya, kata dia, kemungkinan besar akan keluar sebelum Januari berakhir. Ini bikin pasar waspada. Pilihan Trump berpotensi mengarahkan The Fed pada kebijakan yang lebih longgar, mengingat dia sering mengkritik ketua sekarang, Jerome Powell, karena dianggap kurang agresif menurunkan suku bunga.

Untungnya, dari dalam negeri ada angin segar. Komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah ternyata disambut positif pasar. BI diketahui melakukan intervensi cukup besar, baik lewat pasar offshore NDF, DNDF, maupun pasar spot. Bank sentral kita sendiri cukup optimis. Mereka yakin rupiah ke depan akan stabil dengan kecenderungan menguat, didukung imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan prospek ekonomi yang tetap bagus. Cadangan devisa yang melimpah juga jadi tameng untuk upaya stabilisasi.

Ada satu lagi berita yang disorot pasar: proses fit and proper test untuk Thomas Djiwandono. Wakil Menteri Keuangan itu akan diuji oleh Komisi XI DPR RI hari ini sore, sebagai calon Deputi Gubernur BI.

Sebelumnya, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, sudah menegaskan bahwa proses pengisian jabatan yang ditinggalkan Juda Agung ini berjalan sesuai aturan.

“Proses pengisian jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang ditinggalkan Juda Agung berjalan sesuai mekanisme konstitusional dan ketentuan perundang-undangan,” kata Misbakhun.

Jadi, bagaimana prospek rupiah ke depan? Berdasarkan analisisnya, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah masih akan fluktuatif. Tapi, dia melihat potensi mata uang kita untuk ditutup menguat dalam rentang yang cukup luas, antara Rp16.750 sampai Rp16.900 per dolar AS.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar