Rupiah akhirnya menutup perdagangan Senin dengan catatan hijau. Mata uang kita menguat 38 poin, atau sekitar 0,23 persen, ke level Rp16.782 per dolar AS. Ini jadi secercah kabar baik di tengah situasi pasar yang cukup bergejolak.
Lalu, apa yang mendorong penguatan ini? Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, sentimen dari luar negeri punya peran besar. Ketegangan antara AS dan sekutu NATO soal Greenland lagi-lagi mengguncang pasar global. Retorika Presiden Trump tentang kepentingan strategis AS di Arktik disebut-sebut memperkeruh hubungan transatlantik.
“Retorika Trump tentang kepentingan strategis AS di wilayah Arktik telah memperketat hubungan transatlantik, memicu kekhawatiran tentang dampak diplomatik dan ekonomi yang lebih luas,” jelas Ibrahim dalam risetnya.
Belum cukup sampai di situ, Trump juga kembali memanas-manasi urusan perdagangan. Akhir pekan kemarin, dia mengancam akan mengenakan tarif gila-gilaan tepatnya 100 persen pada barang-barang Kanada. Itu semua gara-gara Ottawa dianggap masih mau menjalin kesepakatan dagang dengan China.
Di sisi lain, pasar juga sedang fokus menunggu keputusan The Fed. Rapat kebijakan bank sentral AS itu akan berakhir Rabu nanti. Mayoritas pelaku pasar sudah mengantisipasi suku bunga bakal dipertahankan. Tapi, yang bakal dicermati betul-betul adalah pernyataan dan petunjuk dari Ketua Jerome Powell. Investor ingin tahu kapan dan seberapa cepat The Fed berencana memangkas suku bunga nanti, mungkin di akhir tahun.
Nah, soal The Fed ini, Trump lagi-lagi bikin kejutan. Dia mengaku sudah selesai mewawancarai calon ketua The Fed yang baru dan bahkan sudah menentukan pilihannya. Pengumuman resminya, kata dia, kemungkinan besar akan keluar sebelum Januari berakhir. Ini bikin pasar waspada. Pilihan Trump berpotensi mengarahkan The Fed pada kebijakan yang lebih longgar, mengingat dia sering mengkritik ketua sekarang, Jerome Powell, karena dianggap kurang agresif menurunkan suku bunga.
Artikel Terkait
Thomas Djiwandono Usung Strategi Gerak BI untuk Pacu Pertumbuhan Inklusif
Dari Kartu Telepon ke Cloud: Mengenal JAST, Emiten yang Sahamnya Melonjak 34%
Astra Graphia Pacu Pasar dengan Mesin Cetak AI Pertama di Asia Pasifik
KEK Dijadikan Katalis, IBC Pacu Manufaktur Indonesia di Forum Ekonomi 2026