Untungnya, dari dalam negeri ada angin segar. Komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah ternyata disambut positif pasar. BI diketahui melakukan intervensi cukup besar, baik lewat pasar offshore NDF, DNDF, maupun pasar spot. Bank sentral kita sendiri cukup optimis. Mereka yakin rupiah ke depan akan stabil dengan kecenderungan menguat, didukung imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan prospek ekonomi yang tetap bagus. Cadangan devisa yang melimpah juga jadi tameng untuk upaya stabilisasi.
Ada satu lagi berita yang disorot pasar: proses fit and proper test untuk Thomas Djiwandono. Wakil Menteri Keuangan itu akan diuji oleh Komisi XI DPR RI hari ini sore, sebagai calon Deputi Gubernur BI.
Sebelumnya, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, sudah menegaskan bahwa proses pengisian jabatan yang ditinggalkan Juda Agung ini berjalan sesuai aturan.
“Proses pengisian jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang ditinggalkan Juda Agung berjalan sesuai mekanisme konstitusional dan ketentuan perundang-undangan,” kata Misbakhun.
Jadi, bagaimana prospek rupiah ke depan? Berdasarkan analisisnya, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah masih akan fluktuatif. Tapi, dia melihat potensi mata uang kita untuk ditutup menguat dalam rentang yang cukup luas, antara Rp16.750 sampai Rp16.900 per dolar AS.
Artikel Terkait
Purbaya Siap Sidak Pabrik Baja China yang Diduga Lari dari Pajak
Purbaya Santai Tanggapi Firasat Noel: Saya Tak Pernah Terima Duit
Komisi XI DPR Sepakati Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI
Thomas Djiwandono Usung Strategi Gerak BI untuk Pacu Pertumbuhan Inklusif