Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Tekanan di pasar domestik ini kian menjadi karena didorong oleh arus modal asing yang keluar. Menurut data, investor asing mencatatkan net sell senilai Rp3,50 triliun sepanjang pekan itu.
Akibatnya, IHSG terkoreksi 1,37 persen ke level 8.951,01. Posisi ini jauh dari rekor tertinggi (all-time high) di 9.174,47 yang sempat dicapai pada 20 Januari lalu. Suasana koreksi ini makin kelam dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati zona kritis Rp16.980-Rp17.000 per dolar AS level yang mendekati rekor terlemahnya sepanjang sejarah.
Mengutip analis dari BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan rupiah ini dipicu oleh beberapa hal.
“Kekhawatiran geopolitik global yang meningkat, ditambah tekanan fiskal dan derasnya arus keluar modal asing, secara keseluruhan memukul sentimen di pasar modal kita,” begitu kira-kira penjelasan mereka.
Semua faktor itu akhirnya berujung pada satu titik: tekanan yang bertubi-tubi. Pasar saham kita, setidaknya pekan lalu, harus menelan pil pahit koreksi yang dalam.
Artikel Terkait
Vietnam Pacu Ekonomi Dua Digit di Bawah Kepemimpinan Baru To Lam
Eka Hospital Buka Cabang Premium di MT Haryono, Lengkapi dengan Robot Bedah Canggih
Hans Kwee Sebut IHSG Siap Tembus 10.000, Didorong Kekuatan Investor Domestik
Operasi Penyelundupan Timah Berakhir, Harga Global Melonjak Gila-gilaan