Emas Tertekan Sentimen The Fed, Analis dan Investor Ritel Berselisih Pandang

- Senin, 19 Januari 2026 | 07:20 WIB
Emas Tertekan Sentimen The Fed, Analis dan Investor Ritel Berselisih Pandang

Harga emas dunia melanjutkan pelemahannya pada Jumat lalu, turun 0,43 persen ke level sekitar USD 4.596,32 per troy ons. Ini sudah hari kedua berturut-turut logam kuning itu mengalami koreksi.

Lalu, apa penyebabnya? Tampaknya, ada beberapa faktor yang berperan. Di satu sisi, permintaan emas sebagai aset safe-haven mulai mereda. Ketegangan geopolitik terkait Iran, misalnya, agak mencair setelah Presiden AS Donald Trump menyiratkan kemungkinan penundaan aksi militer. Ia menilai penindakan terhadap protes mulai melunak dan eksekusi skala besar tak akan dilakukan. Situasi ini mengurangi daya tarik emas sebagai pelindung nilai.

Di sisi lain, sentimen pasar justru lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Data ekonomi AS yang belakangan ini terlihat kuat membuat banyak orang berpikir ulang. Pandangan bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama semakin menguat. Alhasil, investor pun mulai mengurangi taruhan mereka untuk pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Mayoritas pasar sekarang percaya, suku bunga akan dipertahankan pada pertemuan bulan ini. Pelonggaran baru benar-benar diharapkan terjadi pertengahan 2026.

Meski turun, jangan salah. Posisi emas sebenarnya masih kuat. Harganya bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa dan masih mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 1,92 persen, berkat reli yang solid di awal pekan.

Nah, bagaimana prospek untuk pekan ini? Ternyata, para ahli justru terbelah.

Survei Emas Mingguan Kitco News menunjukkan perbedaan mencolok antara analis Wall Street dan investor ritel. Kalangan ritel tampak semakin optimis, sementara para analis profesional justru lebih berhati-hati.

“Harga emas berpotensi turun,” ujar Adam Button, Kepala Strategi Valuta Asing Forexlive.com.

“Komentar tentang Hassett pada Jumat lalu menegaskan betapa besarnya taruhan untuk independensi The Fed. Menurut saya, taruhannya bahkan lebih besar pada putusan Mahkamah Agung terkait tarif, yang saya perkirakan akan berlawanan dengan keinginan Presiden,” imbuhnya.

Namun, tidak semua pesimis. Darin Newsom, Analis Pasar Senior Barchart.com, punya pandangan berbeda.

“Naik. Aturan Pasar Newsom nomor satu: jangan melawan tren. Dan tren di logam mulia, termasuk emas, masih mengarah ke atas,” tegas Newsom.

Sementara itu, Mark Leibovit dari VR Metals/Resource Letter justru menyuarakan kekhawatiran yang lebih dalam.

“Puncak kemungkinan sudah tercapai untuk emas dan perak. Risikonya adalah perak bisa jatuh ke zona 50-60 dan emas ke 3.500. Saya sendiri sekarang memilih berada di posisi kas (uang tunai),” katanya.

Secara angka, dari 16 analis Wall Street yang disurvei, hanya separuhnya atau delapan orang yang masih bullish untuk pekan ini. Empat analis memprediksi penurunan, dan empat lainnya melihat harga akan bergerak sideways atau konsolidasi.

Suasana di kalangan investor ritel jauh lebih hangat. Dari 247 suara yang masuk dalam jajak pendapat daring, mayoritas besar 192 trader atau 78 persen memperkirakan harga akan naik. Hanya 11 persen yang memprediksi turun atau mendatar.

Pekan ini, kalender ekonomi cukup padat dengan data inflasi dan pertumbuhan. Tapi, jangan kaget jika pasar tetap lebih banyak menyoroti perkembangan geopolitik yang terjadi. Pasar AS tutup pada Senin untuk Hari Martin Luther King Jr., sementara di Davos, Swiss, World Economic Forum (WEF) baru saja dimulai.

Pada Selasa, data ADP Employment AS akan dirilis. Rabu, giliran Pending Home Sales untuk Desember, dan Presiden Trump dijadwalkan berbicara di WEF. Kamis pagi menjadi hari yang sibuk dengan rilis final PDB AS kuartal III, data inflasi PCE, serta klaim pengangguran mingguan. Pekan ini kemudian ditutup pada Jumat dengan rilis data S&P Flash PMI dan indeks sentimen konsumen University of Michigan.

Jadi, semuanya kembali pada data dan nada dari para pembicara. Emas mungkin sedang menarik napas sejenak, tapi pertarungan antara bulls dan bears jelas belum berakhir.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar