Harga emas dunia melanjutkan pelemahannya pada Jumat lalu, turun 0,43 persen ke level sekitar USD 4.596,32 per troy ons. Ini sudah hari kedua berturut-turut logam kuning itu mengalami koreksi.
Lalu, apa penyebabnya? Tampaknya, ada beberapa faktor yang berperan. Di satu sisi, permintaan emas sebagai aset safe-haven mulai mereda. Ketegangan geopolitik terkait Iran, misalnya, agak mencair setelah Presiden AS Donald Trump menyiratkan kemungkinan penundaan aksi militer. Ia menilai penindakan terhadap protes mulai melunak dan eksekusi skala besar tak akan dilakukan. Situasi ini mengurangi daya tarik emas sebagai pelindung nilai.
Di sisi lain, sentimen pasar justru lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Data ekonomi AS yang belakangan ini terlihat kuat membuat banyak orang berpikir ulang. Pandangan bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama semakin menguat. Alhasil, investor pun mulai mengurangi taruhan mereka untuk pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Mayoritas pasar sekarang percaya, suku bunga akan dipertahankan pada pertemuan bulan ini. Pelonggaran baru benar-benar diharapkan terjadi pertengahan 2026.
Meski turun, jangan salah. Posisi emas sebenarnya masih kuat. Harganya bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa dan masih mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 1,92 persen, berkat reli yang solid di awal pekan.
Nah, bagaimana prospek untuk pekan ini? Ternyata, para ahli justru terbelah.
Survei Emas Mingguan Kitco News menunjukkan perbedaan mencolok antara analis Wall Street dan investor ritel. Kalangan ritel tampak semakin optimis, sementara para analis profesional justru lebih berhati-hati.
“Harga emas berpotensi turun,” ujar Adam Button, Kepala Strategi Valuta Asing Forexlive.com.
“Komentar tentang Hassett pada Jumat lalu menegaskan betapa besarnya taruhan untuk independensi The Fed. Menurut saya, taruhannya bahkan lebih besar pada putusan Mahkamah Agung terkait tarif, yang saya perkirakan akan berlawanan dengan keinginan Presiden,” imbuhnya.
Namun, tidak semua pesimis. Darin Newsom, Analis Pasar Senior Barchart.com, punya pandangan berbeda.
Artikel Terkait
IHSG Diprediksi Konsolidasi, Investor Asing Masih Deras Beli Saham
IHSG Pacu Rekor Baru, Analis Waspadai Koreksi di Tengah Momentum Naik
Wall Street Berharap pada Laba Perusahaan di Tengah Badai Politik
Wall Street Berakhir Merah, Sektor Kesehatan Terpukul Sementara Semikonduktor Bersinar