Kilang Balikpapan Resmi Beroperasi, Impor Solar Ditargetkan Berhenti Tahun Ini

- Selasa, 13 Januari 2026 | 06:36 WIB
Kilang Balikpapan Resmi Beroperasi, Impor Solar Ditargetkan Berhenti Tahun Ini

Rencananya, izin impor untuk solar CN 48 akan dihentikan mulai awal 2026. Sementara untuk jenis CN 51, impor akan berakhir pada semester kedua tahun yang sama.

Bagaimana caranya? Bahlil merinci, kebutuhan solar nasional kita sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan itu sudah didukung program biodiesel B40 dan B60, ditambah lagi dengan produksi tambahan hampir 5 juta kiloliter dari kilang ini. Dengan perhitungan itu, sisa impor yang sebelumnya sekitar 5 juta kiloliter bisa ditutup. Bahkan, untuk jenis C48, akan ada surplus sekitar 1,4 juta kiloliter. Untuk C51, impor yang tersisa tinggal 600 ribu kiloliter.

"Nanti di semester kedua Pertamina saya minta untuk membangun kapasitas agar kita tidak impor lagi," lanjutnya.

Target berikutnya adalah avtur. Pemerintah yakin impor avtur bisa diakhiri pada 2027. "Jadi avtur juga 2027 insyaallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis," tutur Bahlil.

Tak cuma soal henti impor, RDMP Balikpapan juga akan meningkatkan produksi berbagai jenis BBM seperti RON 92, 95, dan 98. Tujuannya jelas: memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan produksi sendiri.

Proyek yang digarap sejak 2019 ini memang komprehensif. Ia mencakup segala hal, mulai dari penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang rantai pasok energi. Peningkatan kapasitas utamanya ada pada Crude Distillation Unit (CDU).

Salah satu jantung proyek ini adalah fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex. Fasilitas inilah yang mengubah kualitas produksi bahan bakar secara signifikan. Dari standar Euro 2 dengan sulfur 2.500 ppm, naik jadi standar Euro 5 yang jauh lebih bersih dengan sulfur hanya 10 ppm.

Manfaatnya berlapis. Selain menghasilkan bensin dan solar yang lebih berkualitas, kilang ini juga akan menambah produksi LPG sekitar 336 ribu ton per tahun. Bahkan, minyak residu bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene. Sebuah lompatan besar, memang.


Halaman:

Komentar