Kilang Balikpapan baru saja diresmikan, dan target pemerintah langsung terasa ambisius: impor solar dihentikan tahun ini, lalu giliran avtur pada 2027. Target itu ditegaskan usai Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kalimantan Timur, Senin lalu. Proyek senilai Rp 123 triliun ini bukan main-main. Ia disebut-sebut sebagai tonggak baru untuk ketahanan energi kita.
Dengan diresmikannya RDMP, kapasitas pengolahan Kilang Balikpapan milik Pertamina melonjak drastis. Dari sebelumnya 260 ribu barel per hari, kini menjadi 360 ribu barel. Angka itu membuatnya resmi jadi kilang terbesar di Indonesia.
Dalam sambutannya, Prabowo tak menyembunyikan kebanggaannya.
"Tentunya saya menyambut bahagia dan sangat bangga atas peresmian hari ini. Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh unsur, pihak, dan jajaran personalia sehingga kita berhasil mencapai hari ini. Ini prestasi yang sangat penting bagi bangsa," ujarnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kemudian membeberkan detailnya. Proyek raksasa ini terintegrasi dengan infrastruktur lain, seperti Terminal Minyak Lawe-lawe dan Pipa Gas Senipah-Balikpapan. "Total investasinya sekitar 7,4 miliar US dollar. Ini adalah RDMP terbesar dalam sepanjang sejarah kita," tegas Bahlil.
Yang menarik, ini adalah proyek RDMP pertama yang selesai setelah jeda sangat panjang. Terakhir kali Pertamina merampungkan proyek serupa di Balongan, itu terjadi pada 1994. Jadi, sudah 32 tahun yang lalu.
"RDMP mempunyai makna tersendiri dalam konteks kedaulatan energi," jelas Bahlil, menekankan pentingnya momen ini.
Lalu, apa dampak langsungnya? Menurut Bahlil, pengaruhnya terhadap impor bahan bakar akan segera terasa, terutama untuk solar. "Begitu diresmikan, maka insyaallah kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar. Ini dalam rangka mendorong kedaulatan energi," sebutnya.
Artikel Terkait
Trump Guncang Independensi The Fed, Dolar AS Tergelincir
IHSG Bangkit 0,42%, Sektor Industri Pimpin Pemulihan
Archi Indonesia Pasang Anggaran Rp168 Miliar untuk Gali Potensi Emas Toka Tindung
BRI Cetak Sejarah dengan SBK Rp 500 Miliar, Dapat Restu Penuh BI dan OJK