Di sisi lain, pasar global juga sedang mencerna perkembangan yang tak kalah panas dari Amerika Serikat. Ketua The Fed, Jerome Powell, membuat pernyataan mengejutkan pada Minggu lalu. Ia mengungkap bahwa pemerintahan Donald Trump mengancamnya dengan dakwaan pidana, bahkan sampai pada panggilan dewan juri. Ini terkait kesaksiannya di Kongres musim panas lalu soal proyek renovasi gedung bank sentral.
Powell sendiri menilai semua ancaman itu cuma dalih. Tujuannya jelas: untuk menekan The Fed agar memotong suku bunga.
Perkembangan terbaru ini jelas memperuncing konflik yang sudah berlangsung sejak Powell memimpin The Fed tahun 2018. Konflik antara bank sentral dan istana kepresidenan AS itu makin panas saja.
Sementara itu, dari kancah geopolitik, ancaman Trump untuk melakukan intervensi di Iran turut mempengaruhi pasar. Di tengah gelombang protes terhadap pemerintahan ulama di sana, ancaman itu justru menopang harga minyak untuk tetap berada di zona hijau. Situasi ini sekaligus menjadi pengingat keras: risiko geopolitik akan menjadi bayang-bayang yang mengintai pasar sepanjang tahun mendatang.
Ingat, keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan Anda sebagai investor.
Artikel Terkait
Rupiah Melemah Tipis di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Data Inflasi AS
MCOL Dirikan Anak Usaha Rp18,75 Miliar untuk Garap Bisnis Data dan TI
Pemerintah Hapus 11.014 Nama dari Daftar Penerima Bansos Mulai April 2026
IHSG Menguat Tipis 0,46% di Sesi Pagi, Volume Transaksi Tembus Rp10 Triliun