Di Hotel Grand Sahid Jaya, Selasa lalu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyampaikan sesuatu yang cukup menohok. Menurutnya, ada benang merah yang kuat antara tindak korupsi dan kekerasan terhadap anak. Acara Sosialisasi Anti Korupsi yang bertepatan dengan Peringatan Hari Ayah Nasional itu jadi momen tepat untuk menyampaikan pesan tersebut.
“Korupsi ini bukan cuma soal uang negara yang hilang,” ujar Arifah.
“Lebih dari itu, efek jahatnya merembet ke mana-mana, bahkan sampai merusak masa depan generasi muda kita. Pada akhirnya, korupsi itu sendiri adalah sebuah bentuk kekerasan terhadap anak-anak bangsa.”
Nah, karena itu, Arifah punya pandangan yang jelas. Memberantas korupsi harus dimulai dari titik yang paling dekat: keluarga. Di sanalah peran ayah, menurutnya, menjadi kunci utama. Anak-anak tak cuma mendengar kata-kata, tapi lebih sering mencontoh apa yang dilihatnya. Bagaimana seorang ayah memperlakukan ibunya, bagaimana ia mengambil keputusan, atau bagaimana ia menggunakan wewenangnya semua itu diamati dan dicerna.
“Sesungguhnya perang melawan korupsi sejatinya paling inti dan mendasar ada pada ruang-ruang pribadi, ruang-ruang privat, yaitu di dalam keluarga,” tegasnya.
Dia melanjutkan, kehadiran ayah secara fisik saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kehadiran yang memberi teladan. Penelitian pun, kata Arifah, mendukung hal ini. Anak yang tumbuh melihat ayahnya berperilaku jujur punya peluang besar untuk menjadi pribadi yang sama jujurnya. Mereka akan lebih tahan terhadap godaan korupsi saat dewasa nanti.
Artikel Terkait
Jalan Damai Tutup Kasus Fitnah Ijazah Jokowi untuk Dua Tersangka
Kisah Pilu Pasangan Remaja Medan: Hidup di Rumah Kosong Hanya dengan Rp 7.000
Modus Baru Vape Berisi Narkoba, BNN Gagalkan Peredaran Senilai Rp 18 Miliar
Puing Banjir Dibersihkan, TNI Bangun Jembatan Gantung di Aceh Tamiang