Kesedihan yang dalam kini menghantui Muksin. Ia adalah ayah dari Deden Maulana, salah satu dari sepuluh orang yang berada di dalam pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Sulawesi Selatan. Ingatannya akan percakapan terakhir dengan sang anak membuat air matanya tak lagi bisa ditahan.
Dua hari sebelum musibah, tepatnya Kamis lalu, mereka masih bertukar pesan singkat. Muksin memberi tahu bahwa istrinya, ibu Deden, sudah pulang ke Garut untuk kontrol kesehatan. Balasan dari Deden saat itulah yang kini terasa menusuk.
"Katanya 'oh iya abah, hati-hati aja, jaga anak-anak'," kenang Muksin pada Minggu (18/1/2026), suaranya tercekat.
Pesan sederhana itu kini terasa seperti sebuah perpisahan. Deden, yang tercatat sebagai pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), seolah sudah menitipkan amanah terakhir.
Namun begitu, ada satu hal yang mengusik batin Muksin. Sebuah kebiasaan yang tiba-tiba terputus. Setiap kali hendak bertugas keluar kota, Deden tak pernah lupa meminta restu dan doa keselamatan. Tapi untuk penerbangan fatal Sabtu kemarin, ponsel Muksin sama sekali tak berdering.
"Biasanya kalau dia mau berangkat dinas itu suka bilang, minta didoain. Yang kemarin enggak ada kabar, tahu-tahu kabarnya udah begini," tuturnya, masih tak percaya.
Mereka terakhir bertemu muka pada 24 Desember tahun lalu. Jarak memisahkan mereka; Muksin di Garut, sementara Deden membina rumah tangga di Jakarta. Begitu kabar hilang kontak beredar, Muksin langsung bergegas ke ibu kota, menyusul menantunya, untuk mencari kejelasan.
Di kediaman Deden, suasana harap-harap cemas begitu terasa. Keluarga masih enggan menarik kesimpulan paling buruk, meski serpihan pesawat sudah ditemukan di medan ekstrem pegunungan Bulusaraung.
"Makanya warga di sini juga belum berani pasang bendera kuning karena belum ada berita yang pasti," jelas Muksin. "Mudah-mudahan ada keajaiban dari Allah."
Pesawat yang ditumpangi Deden bukanlah penerbangan komersial biasa. Menurut informasi, pesawat dengan nomor registrasi PK-THT itu dioperasikan oleh maskapai Indonesia Air Transport (IAT) untuk misi negara. Tugasnya adalah pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan.
Pesawat itu lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar, membawa tujuh kru dan tiga penumpang dari KKP. Sayangnya, sekitar pukul 13.17 WITA di hari Sabtu, kontaknya terputus.
Sampai saat ini, tim SAR gabungan masih berjibaku di lokasi kejadian. Mereka fokus mengevakuasi korban yang telah ditemukan dan menyisir area pegunungan yang terjal itu. Pencarian terus berlanjut, sementara keluarga seperti Muksin hanya bisa menunggu, berharap, dan mengenang pesan terakhir yang tiba-tiba punya makna begitu berat.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor