Mereka terakhir bertemu muka pada 24 Desember tahun lalu. Jarak memisahkan mereka; Muksin di Garut, sementara Deden membina rumah tangga di Jakarta. Begitu kabar hilang kontak beredar, Muksin langsung bergegas ke ibu kota, menyusul menantunya, untuk mencari kejelasan.
Di kediaman Deden, suasana harap-harap cemas begitu terasa. Keluarga masih enggan menarik kesimpulan paling buruk, meski serpihan pesawat sudah ditemukan di medan ekstrem pegunungan Bulusaraung.
"Makanya warga di sini juga belum berani pasang bendera kuning karena belum ada berita yang pasti," jelas Muksin. "Mudah-mudahan ada keajaiban dari Allah."
Pesawat yang ditumpangi Deden bukanlah penerbangan komersial biasa. Menurut informasi, pesawat dengan nomor registrasi PK-THT itu dioperasikan oleh maskapai Indonesia Air Transport (IAT) untuk misi negara. Tugasnya adalah pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan.
Pesawat itu lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar, membawa tujuh kru dan tiga penumpang dari KKP. Sayangnya, sekitar pukul 13.17 WITA di hari Sabtu, kontaknya terputus.
Sampai saat ini, tim SAR gabungan masih berjibaku di lokasi kejadian. Mereka fokus mengevakuasi korban yang telah ditemukan dan menyisir area pegunungan yang terjal itu. Pencarian terus berlanjut, sementara keluarga seperti Muksin hanya bisa menunggu, berharap, dan mengenang pesan terakhir yang tiba-tiba punya makna begitu berat.
Artikel Terkait
Dua Pendaki Saksikan Ledakan Pesawat KKP di Lereng Bulusaraung
Serpihan Pesawat ATR Ditemukan Pendaki di Gunung Bulusaraung Usai Hilang Kontak
Kemarahan Dedi Mulyadi di Gunung Ciremai: Hutan Bukan Tempat Usaha!
Kisah Abah Aloh dan Puluhan Korban Lain yang Masih Menanti Bantuan di Sukabumi