Malam itu, halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta ramai oleh suara diskusi. Presiden Prabowo Subianto menggelar silaturahmi dengan ratusan ulama dan pimpinan ormas Islam, sebuah pertemuan yang berlangsung cukup lama, nyaris tiga jam penuh. Tidak kurang dari 158 tokoh hadir, mewakili berbagai pondok pesantren dan organisasi masyarakat dari seantero Indonesia.
Pembicaraannya sendiri cukup luas. Mereka tidak hanya membicarakan soal dalam negeri, tapi juga menyinggung situasi global yang belakangan ini makin memanas.
Mamah Dedeh, pendakwah yang akrab di telinga masyarakat, mengiyakan hal itu. Usai acara, ia menceritakan sedikit isi percakapan.
“Presiden masih bercerita tentang kondisi sekarang di luar negeri ada peperangan tadi, itu yang dia sampaikan,” ujar Mamah Dedeh.
Fokusnya, menurutnya, banyak tertuju pada ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, ada topik yang mungkin masih asing bagi banyak orang: keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace atau BoP. Gus Miftah dari Ponpes Ora Aji Yogyakarta mendapat penjelasan langsung dari Presiden mengenai hal ini.
“Ada delapan negara yang Islam, terbesarnya di Indonesia, yang berkomitmen gabung ke BoP. Tapi sekali lagi presiden menekankan bahwa ini bukan harga mati,” jelas Gus Miftah.
Maksudnya, keanggotaan itu tidak bersifat permanen. Indonesia punya sikap. Jika ada hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal, negara siap untuk mundur. Kapan? Itu belum dibahas lebih detail.
Nah, dari pertemuan panjang itu, Prabowo ternyata punya harapan khusus. Ia ingin para tokoh yang hadir para kiai, pimpinan ormas menyebarluaskan inti pembicaraan tadi. Gus Miftah menangkap pesan itu.
“Karena ini tokoh-tokoh agama, ketua-ketua ormas dan para kiai-kiai, presiden punya harapan bahwa informasi yang tadi kiai dapatkan bisa disampaikan kepada jemaah, kepada santrinya, kepada masyarakat. Kira-kira pesan presiden seperti itu,” ujarnya.
Suara senada datang dari Kiai Kafa, pimpinan Ponpes Lirboyo. Ia menegaskan bahwa dalam pertemuan itu, komitmen Indonesia untuk turut menciptakan perdamaian dunia kembali ditegaskan. Situasi global yang panas jadi bahan diskusi serius.
“Dan beliau pesankan, menyampaikan tentang perdamaian di dunia. Jadi perang itu kan membahayakan, jadi apa yang disampaikan oleh beliau itu cukup baik,” tutur Kiai Kafa.
Jadi, selain soal ekonomi dan sosial dalam negeri, pertemuan malam Kamis (5/3/2026) itu lebih banyak diwarnai oleh kegelisahan yang sama: bagaimana Indonesia bersikap di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja.
Artikel Terkait
Polisi Sita 80 Gram Kokain dan Tangkap Dua Tersangka di Kemayoran
YouTube Patuh pada PP Tunas, Batasi Aksen Pengguna di Bawah 16 Tahun
Dua Mahasiswi Unsoed Laporkan Rekan ke Polisi Diduga Pelaku Kekerasan Seksual
Anggota DPR Usulkan Transaksi Batu Bara DMO Pakai Rupiah untuk Kurangi Risiko Negara