Suasana Jakarta siang itu tebal dengan nada kecaman. Melalui perwakilannya di Indonesia, pemerintah Iran tak ragu melabeli aksi Amerika Serikat dan Israel sebagai agresi militer berskala besar. Yang paling menyakitkan, serangan mematikan itu terjadi tepat di bulan Ramadan, saat umat Islam di seluruh dunia tengah khusyuk menjalankan ibadah puasa.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, tampil di hadapan media dengan wajah serius. Dalam konferensi pers yang digelar, ia menegaskan bahwa AS dan sekutunya sama sekali tidak punya rasa hormat. "Mereka tidak menghormati kesucian bulan suci Ramadan, tidak menghargai orang-orang tak berdosa yang sedang berpuasa, dan bahkan tidak menghormati rumah sakit maupun sekolah dasar," ujarnya tegas.
Kalimatnya berhenti sejenak, seolah menahan amarah. Lalu ia melanjutkan dengan data yang memilukan.
"Sampai saat ini, lebih dari lima rumah sakit telah dihancurkan, serta beberapa sekolah dasar, yang mengakibatkan sekitar 200 anak usia SD tewas terbunuh," kecam Boroujerdi.
Menurut paparannya, serangan itu jauh dari kata manusiawi. Alih-alih hanya menyasar target militer, gempuran rudal justru menghancurkan infrastruktur vital warga sipil. Korban berjatuhan, dan yang paling banyak menjadi korban adalah kelompok rentan: perempuan dan anak-anak.
Gambaran kerusakannya sungguh mengerikan. Fasilitas kesehatan luluh lantak. Gedung-gedung sekolah dasar pun tak luput dari hantaman. Boroujerdi menyoroti sebuah ironi pahit: di saat seharusnya ada gencatan atau paling tidak penghormatan pada bulan suci, yang terjadi justru eskalasi kekerasan yang brutal. Serangan ini, bagi Iran, adalah bukti nyata ketidakpedulian koalisi tersebut terhadap nilai-nilai kemanusiaan paling dasar.
Nuansa narasinya jelas: ini bukan sekadar konflik militer biasa. Ini tentang serangan di waktu yang sakral, yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat sipil yang tidak bersenjata.
Artikel Terkait
Karyawan Minimarket Bobol Brankas Rp52 Juta, Habiskan untuk Judi Online dalam 3 Jam
Bareskrim Gagalkan Penyelundupan Puluhan Ton Bawang di Pontianak
Ratusan Kapal Nelayan Cirebon Menganggur Akut Akibat Kelangkaan Solar
Petugas Jakarta Barat Dapat Apresiasi Rp 25 Ribu per Kg dan Jalan ke Ancol Atas Penangkapan Ikan Sapu-Sapu