Pertama, situasi di lapangan masih sangat tidak pasti dan kacau. Industri minyak Venezuela sendiri dalam keadaan morat-marit. Belum lagi sejarah kelam negara itu yang pernah menyita aset-aset milik AS. Namun begitu, masalah terbesar mungkin terletak pada angka: harga minyak dunia saat ini dinilai terlalu rendah untuk membenarkan investasi puluhan miliar dolar guna menghidupkan kembali industri yang sedang merosot tajam.
“Keinginan untuk terjun ke Venezuela saat ini cukup rendah,” kata salah satu sumber tersebut.
“Kita tidak tahu seperti apa pemerintahan di sana nantinya. Keinginan presiden jelas berbeda dengan logika industri. Dan saya yakin Gedung Putih paham betul soal ini.”
Memang, Venezuela punya cadangan minyak terbukti terbesar di dunia mengalahkan Irak, Rusia, dan AS sekalipun. Tapi bagi perusahaan minyak, keputusan investasi jangka panjang tidak cuma soal berapa banyak minyak yang terkubur di perut bumi.
Mereka butuh kepastian. Bagaimana lingkungan operasi di sana dalam lima, sepuluh, atau bahkan dua puluh tahun ke depan? Seorang sumber industri lain mengeluhkan, saat ini sulit sekali memprediksi bentuk pemerintahan Venezuela beberapa minggu ke depan, apalagi beberapa tahun.
“Cadangan minyak terbesar di dunia pun bukan jaminan. Ini bukan bisnis waralaba makanan yang bisa dibangun dalam semalam,” tegasnya.
Menurut sumber ini, pemerintahan Trump dinilai terlalu fokus pada retorika, dan mengabaikan kenyataan di lapangan. Satu hal yang ditekankan: stabilitas politik adalah fondasi mutlak sebelum perusahaan mempertimbangkan untuk menanamkan modalnya di luar negeri.
Artikel Terkait
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026
Triniti Land Group Akan Akuisisi Mayoritas Saham Prime Land untuk Perkuat Bisnis Hospitality
Sido Muncul Bagikan Dividen Rp1,09 Triliun untuk Tahun Buku 2025
IHSG Menguat Tipis, PEGE dan HDFA Melonjak di Atas 34%