Pemerintahan Donald Trump mengklaim telah mengadakan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan minyak dalam negeri. Topiknya? Mengelola aset minyak yang ada di Venezuela. Tapi, sejauh ini, respons dari kalangan industri terbilang dingin. Belum ada tanggapan positif yang mengemuka.
Juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, dalam pernyataannya kepada CNBC, menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak AS siap menggelontorkan miliaran dolar. Tujuannya untuk membangun kembali sektor energi Venezuela, tentu saja, setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap.
“Semua perusahaan minyak kami siap dan bersedia melakukan investasi besar di Venezuela,” ujar Rogers.
“Investasi itu akan membangun kembali infrastruktur minyak mereka, yang dihancurkan oleh rezim Maduro yang tidak sah.”
Meski begitu, Rogers sama sekali tidak merinci perusahaan mana saja yang sudah dihubungi atau kapan percakapan itu terjadi. Laporan Reuters justru menyebutkan raksasa-raksasa seperti Chevron, Conoco, dan Exxon belum diajak bicara oleh pemerintah AS soal rencana penggulingan Maduro. Menariknya, Menteri Energi Chris Wright rencananya akan hadir di sebuah konferensi energi di Miami minggu ini, yang juga akan dihadiri oleh eksekutif Chevron dan ConocoPhillips. Perlu dicatat, Chevron saat ini adalah satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela.
Mengapa Perusahaan Minyak Masih Ragu-Ragu
Di sisi lain, sumber dari dalam industri yang dikutip CNN punya pandangan berbeda. Mereka bilang, kecil kemungkinan eksekutif perusahaan minyak AS akan langsung terjun ke Venezuela. Alasannya cukup banyak.
Artikel Terkait
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026
Triniti Land Group Akan Akuisisi Mayoritas Saham Prime Land untuk Perkuat Bisnis Hospitality
Sido Muncul Bagikan Dividen Rp1,09 Triliun untuk Tahun Buku 2025
IHSG Menguat Tipis, PEGE dan HDFA Melonjak di Atas 34%