Trump Janji Investasi Minyak AS di Venezuela, Tapi Raksasa Energi Malah Mundur Teratur

- Selasa, 06 Januari 2026 | 13:12 WIB
Trump Janji Investasi Minyak AS di Venezuela, Tapi Raksasa Energi Malah Mundur Teratur

Pemerintahan Donald Trump mengklaim telah mengadakan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan minyak dalam negeri. Topiknya? Mengelola aset minyak yang ada di Venezuela. Tapi, sejauh ini, respons dari kalangan industri terbilang dingin. Belum ada tanggapan positif yang mengemuka.

Juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, dalam pernyataannya kepada CNBC, menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak AS siap menggelontorkan miliaran dolar. Tujuannya untuk membangun kembali sektor energi Venezuela, tentu saja, setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap.

“Semua perusahaan minyak kami siap dan bersedia melakukan investasi besar di Venezuela,” ujar Rogers.

“Investasi itu akan membangun kembali infrastruktur minyak mereka, yang dihancurkan oleh rezim Maduro yang tidak sah.”

Meski begitu, Rogers sama sekali tidak merinci perusahaan mana saja yang sudah dihubungi atau kapan percakapan itu terjadi. Laporan Reuters justru menyebutkan raksasa-raksasa seperti Chevron, Conoco, dan Exxon belum diajak bicara oleh pemerintah AS soal rencana penggulingan Maduro. Menariknya, Menteri Energi Chris Wright rencananya akan hadir di sebuah konferensi energi di Miami minggu ini, yang juga akan dihadiri oleh eksekutif Chevron dan ConocoPhillips. Perlu dicatat, Chevron saat ini adalah satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela.

Mengapa Perusahaan Minyak Masih Ragu-Ragu

Di sisi lain, sumber dari dalam industri yang dikutip CNN punya pandangan berbeda. Mereka bilang, kecil kemungkinan eksekutif perusahaan minyak AS akan langsung terjun ke Venezuela. Alasannya cukup banyak.

Pertama, situasi di lapangan masih sangat tidak pasti dan kacau. Industri minyak Venezuela sendiri dalam keadaan morat-marit. Belum lagi sejarah kelam negara itu yang pernah menyita aset-aset milik AS. Namun begitu, masalah terbesar mungkin terletak pada angka: harga minyak dunia saat ini dinilai terlalu rendah untuk membenarkan investasi puluhan miliar dolar guna menghidupkan kembali industri yang sedang merosot tajam.

“Keinginan untuk terjun ke Venezuela saat ini cukup rendah,” kata salah satu sumber tersebut.

“Kita tidak tahu seperti apa pemerintahan di sana nantinya. Keinginan presiden jelas berbeda dengan logika industri. Dan saya yakin Gedung Putih paham betul soal ini.”

Memang, Venezuela punya cadangan minyak terbukti terbesar di dunia mengalahkan Irak, Rusia, dan AS sekalipun. Tapi bagi perusahaan minyak, keputusan investasi jangka panjang tidak cuma soal berapa banyak minyak yang terkubur di perut bumi.

Mereka butuh kepastian. Bagaimana lingkungan operasi di sana dalam lima, sepuluh, atau bahkan dua puluh tahun ke depan? Seorang sumber industri lain mengeluhkan, saat ini sulit sekali memprediksi bentuk pemerintahan Venezuela beberapa minggu ke depan, apalagi beberapa tahun.

“Cadangan minyak terbesar di dunia pun bukan jaminan. Ini bukan bisnis waralaba makanan yang bisa dibangun dalam semalam,” tegasnya.

Menurut sumber ini, pemerintahan Trump dinilai terlalu fokus pada retorika, dan mengabaikan kenyataan di lapangan. Satu hal yang ditekankan: stabilitas politik adalah fondasi mutlak sebelum perusahaan mempertimbangkan untuk menanamkan modalnya di luar negeri.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar