Hebatnya, sentimen positif ini juga didukung oleh kabar terbaru dari pemerintah. Kementerian ESDM rupanya memberikan relaksasi sementara bagi perusahaan tambang. Intinya, perusahaan yang RKAB 2026-nya sudah disetujui tapi harus menyesuaikan aturan baru, masih boleh beroperasi sambil menunggu persetujuan revisi. Syaratnya, produksi maksimal hanya 25% dari rencana, dan aturan ini berlaku sementara hingga akhir Maret 2026.
Semua ini tentu berkaitan erat dengan pergerakan harga nikel di pasar global. Pada 2 Januari lalu, harga nikel menyentuh level USD 16.851 per ton posisi tertinggi sejak Oktober 2024. Ini adalah pemulihan yang signifikan, mengingat sebelumnya harga sempat terjun ke level terendah empat tahun di angka USD 14.350. Dalam sebulan terakhir saja, nikel sudah menguat hampir 13%.
Pemicunya? Pasar mulai meninjau ulang asumsi bahwa pasokan nikel benar-benar berlebih. Apalagi, Indonesia dikabarkan mengusulkan pemotongan produksi hingga 34% tahun ini. Langkah ini diambil untuk menjawab kekhawatiran surplus dan peringatan dari para penambang soal penurunan kualitas bijih.
Ini bukan kali pertama. Upaya menekan surplus sudah dilakukan sejak larangan ekspor bijih mentah pada 2020. Belum lagi rencana revisi formula harga acuan dan penerapan royalti yang bisa semakin memperketat pasokan di pasaran.
Bagi para analis, langkah pembatasan produksi ini jelas akan menyangga harga. Terutama di saat harga masih berkutat di sekitar biaya produksi di beberapa tambang utama. Singkatnya, kebijakan Indonesia kini jadi penentu utama. Dengan kendali penuh atas kuota pertambangan atau RKAB, pemerintah punya kemampuan untuk mengarahkan pasokan dan harganya untuk tahun-tahun mendatang.
Perlu diingat, keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor. Lakukan analisis menyeluruh sebelum bertindak.
Artikel Terkait
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi
Analis HSBC Proyeksikan Emas Tembus USD 5.000 pada Awal 2026