Senin lalu, pasar saham Indonesia diramaikan oleh aksi saham-saham tambang nikel yang meroket. Kenaikan ini terjadi serentak, menandai awal tahun 2026 dengan sentimen yang cukup positif untuk sektor tersebut.
Berdasarkan pantauan di papan perdagangan, PT PAM Mineral Tbk (NICL) jadi salah satu yang paling mencolok, melesat 6,5% ke level Rp1.475. Tak kalah kuat, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga mendaki 6,44% ke posisi Rp2.480 per unitnya.
Di sisi lain, masih ada sederet nama lain yang ikut merasakan angin segar. Saham PT Timah (TINS) melonjak 5,73%, sementara PT Vale Indonesia (INCO) menguat 5,66%. PT Pelat Timah Nusantara (NIKL) naik 4,49%, diikuti oleh saham-saham seperti Central Omega Resources (DKFT), Adhi Kartiko Pratama (NICE), Trimegah Bangun Persada (NCKL), dan Merdeka Battery Materials (MBMA) yang juga mencatatkan kenaikan, meski lebih moderat.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Pengamat pasar modal Michael Yeoh punya pandangannya. Ia melihat prospek cerah ini sejalan dengan rencana pemerintah Indonesia produsen nikel utama dunia untuk memangkas pasokan. Tujuannya jelas: mendongkrak harga.
"Kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor nikel," ujar Michael.
Ia menambahkan, saat ini harga nikel di London Metal Exchange (LME) sendiri sudah naik 12-13% sejak awal tahun. "Jika tren kenaikan harga tersebut mampu berlanjut, dampaknya akan terasa langsung pada kinerja keuangan emiten," jelasnya.
Dari kacamata teknikal, Michael menilai beberapa saham mulai menunjukkan pola perbaikan. Menurutnya, INCO dan MBMA punya pola reversal yang menunjukkan potensi kenaikan yang cukup menarik.
Artikel Terkait
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi
Analis HSBC Proyeksikan Emas Tembus USD 5.000 pada Awal 2026