Libur panjang memang selalu jadi alasan yang pas untuk kabur sejenak dari rutinitas. Kalau di Ambarawa, 'kabur' itu artinya bertemu dengan sebuah bangunan besar yang sudah lama terdiam. Itulah Benteng Fort Willem I, atau yang lebih akrab di telinga warga sekitar sebagai Benteng Pendem. Namanya saja sudah jujur, menggambarkan benteng yang seperti terpendam. Ia berdiri di cekungan tanah, tak berusaha mencolok, mirip teman lama yang dulu sering kita temui lalu perlahan terlupakan. Nah, ketika gerbangnya dibuka kembali baru-baru ini, ternyata cerita yang disimpannya masih hangat dan relevan. Sejarah di sini tidak berdiri kaku di balik kaca museum, melainkan berjalan pelan, menemani langkah setiap pengunjung.
Menurut catatan, pembangunannya dimulai jauh hari, tepatnya tahun 1834 oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Proyek besar ini butuh waktu hampir dua dekade, baru benar-benar rampung sekitar 1853. Namanya diambil dari Raja Belanda yang berkuasa saat itu, Willem I. Lokasinya sendiri ada di Ambarawa, Kabupaten Semarang, bersembunyi di dekat RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo dan Museum Kereta Api Ambarawa. Letaknya yang agak tersembunyi itu memang membuatnya terasa seperti sebuah rahasia yang dijaga baik-baik oleh waktu.
Kenapa dibangun di Ambarawa? Ternyata, di abad ke-19, wilayah ini punya posisi yang sangat strategis. Ia jadi simpul penghubung vital antara Semarang, Surakarta, Magelang, dan Yogyakarta. Jalur tengah Pulau Jawa. Makanya, Belanda melihatnya sebagai titik logistik dan militer yang krusial. Namun begitu, Fort Willem I ini bukan benteng meriam biasa yang menghadap ke laut. Fungsinya lebih ke barak militer sekaligus gudang penyimpanan persediaan. Desainnya punya banyak jendela dan lorong-lorong panjang, lebih mirip kota kecil tertutup ketimbang benteng pertahanan yang angker.
Membayangkan proses pembangunannya saja sudah bikin menghela napas. Ribuan pekerja pribumi dikerahkan untuk proyek ambisius ini, bekerja bertahun-tahun di atas tanah yang awalnya rawa dan lembap. Agar kokoh, fondasinya diperkuat dengan balok-balok kayu jati berukuran besar. Kayu jati inilah yang konon membuat bangunannya tetap tegak sampai sekarang. Sebuah penelitian dari Universitas Diponegoro tahun 2016 pun mencatat kekuatan struktur tersebut. Benteng ini ibarat kapal besar yang memutuskan untuk berlabuh permanen di daratan.
Setelah jadi, benteng ini difungsikan sebagai barak bagi tentara KNIL. Ada jalur kereta api yang menghubungkannya dengan kota-kota lain, menjadikannya pusat distribusi logistik yang sibuk. Bayangkan, ribuan prajurit pernah hidup dan beraktivitas di dalamnya. Namun suasana berubah drastis saat masa pendudukan Jepang. Fungsinya berganti menjadi penjara dan kamp tahanan yang suram. Banyak tokoh pejuang merasakan dinginnya sel di sini.
Salah satunya adalah ulama pejuang, Kiai Mahfud Salam.
Dinding-dinding tebalnya jelas menyimpan banyak kisah getir dari era itu.
Pasca kemerdekaan, nasib benteng ini terus berubah mengikuti zaman. Sebagian areanya dipakai untuk kepentingan militer dan administrasi, lalu kemudian berubah menjadi Lapas Kelas IIA Ambarawa. Aktivitas baru berjalan, tapi perhatian publik terhadap nilai sejarahnya justru meredup. Langit-langitnya dianggap rendah, beberapa bagian mulai rapuh dimakan usia. Benteng itu seperti menarik napas panjang dalam kesunyian yang panjang.
Artikel Terkait
Satgas Beri Peringatan Terakhir ke 20 Perusahaan Sawit dan Tambang Penunggak Denda
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026
Rizki Juniansyah Naik Jadi Kapten, 52 Medali SEA Games TNI Dibayar Kenaikan Pangkat
Pohon-Pohon Bercerita: Video Mapping Meriahkan Malam di Sesar Lembang