Di tengah riuh konferensi pers APBN KITA Senin lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyentil sebuah isu yang sedang hangat. Soalnya, seorang alumni beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, viral karena unggahan videonya. Dalam video itu, Dwi memamerkan anak keduanya yang mendapat paspor Inggris, sambil berkomentar bahwa cukup dirinya saja yang berkewarganegaraan Indonesia. "Anak-anakku jangan," katanya.
Purbaya tampaknya tak sepakat. Bahkan, ia menyebut pandangan skeptis seperti itu sebagai sebuah kekeliruan. Dengan nada yakin, ia memproyeksikan masa depan Indonesia justru akan jauh lebih kuat dan membanggakan dalam dua dekade ke depan.
"Teman-teman mungkin sudah bosan ya, kalau kita lihat kondisi global," ujar Purbaya di sela-sela paparannya.
Lalu ia melanjutkan, "Tapi nggak apa-apa, ini ada yang bagus nih. Teman-teman ada yang ngeledek, termasuk ada yang kemarin tuh, yang dibilang anaknya jangan warga negara Indonesia."
Menurutnya, sikap itu akan berbalik jadi penyesalan. "Mungkin 20 tahun lagi dia akan nyesel, karena 20 tahun lagi kita akan bagus banget," ungkap dia tegas.
Pernyataan Dwi dalam video itu memang menyulut banyak reaksi. Video yang menunjukkan surat dari Home Office Britania Raya itu diiringi caption yang cukup menusuk: "I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu."
Tak pelak, unggahan itu memicu kemarahan. Apalagi, Dwi dan suaminya, Arya Iwantoro, diketahui merupakan penerima beasiswa LPDP yang dananya bersumber dari pajak rakyat. Meski Dwi sudah meminta maaf dan mengatakan ucapannya lahir dari frustrasi pribadi, gelombang kritik tak juga reda.
Di sisi lain, LPDP sebagai lembaga pemberi beasiswa pun tak tinggal diam. Mereka secara resmi menyatakan penyesalan atas tindakan alumninya tersebut. Alasannya, tindakan itu dinilai tidak mencerminkan nilai integritas dan etika yang selalu coba ditanamkan selama program beasiswa berlangsung.
Polemik ini, di satu sisi, menyisakan pertanyaan tentang komitmen dan rasa terima kasih. Di sisi lain, seperti disinggung Purbaya, ia jadi pengingat untuk tak mudah meragukan masa depan negeri sendiri. Hanya waktu yang bisa membuktikan siapa yang benar.
Artikel Terkait
Gempa M5,1 Guncang Sarmi, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
PMI Manufaktur Indonesia Netral di 50,0 pada Mei, Produksi Masih Tertekan Harga Bahan Baku dan Konflik Global
Imam Besar Masjid Al Aqsa Kecam Rencana Israel Larang Azan di Yerusalem Timur
BGN Percepat Validasi Data Penerima Makan Bergizi Gratis Libatkan Kementerian hingga Perangkat Desa