Berada di dekat pohon ternyata bukan sekadar memberi kesan teduh, melainkan juga memicu respons biologis yang membuat tubuh lebih rileks. Sentuhan, lingkungan alami, dan senyawa yang dilepaskan tumbuhan disebut berperan dalam mengalihkan tubuh dari kondisi siaga menuju ketenangan.
Praktisi bisnis lingkungan sekaligus influencer, Bang Sap, menjelaskan bahwa interaksi manusia dengan pohon dapat diterangkan melalui mekanisme biologis. Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, dia mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan alam sebagai cara mengurangi stres.
"Ini economy, warga Indonesia kayaknya perlu mulai memeluk pohon untuk mengurangi stres. Dengar-dengar kayak solusi orang yang udah menyerah ya sama kehidupan? Masa stres solusinya memeluk pohon? Padahal dalam sudut pandang lingkungan, hal ini memang bisa dijelaskan loh," ujar Bang Sap, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Bang Sap, salah satu faktor yang membuat interaksi dengan pohon terasa menenangkan adalah sentuhan. Ketika seseorang memeluk atau menyentuh batang pohon, tubuh menerima stimulasi fisik yang dapat memengaruhi respons sistem saraf.
"Ada dua hal yang kerja bareng di situ. Yang pertama, sentuhannya. Penelitian soal sentuhan nunjukin, kontak fisik yang menenangkan itu bikin saraf kita pindah ke mode istirahat, dan hormon stres ikut turun," katanya.
Respons tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi tubuh dari keadaan siaga menuju kondisi yang lebih tenang. Karena itu, aktivitas sederhana seperti menyentuh atau memeluk pohon dapat memberikan pengalaman relaksasi bagi sebagian orang.
Senyawa Fitonsida yang Dilepaskan Pohon
Selain sentuhan, faktor lain yang disoroti adalah senyawa alami yang dilepaskan pohon ke udara. Senyawa tersebut dikenal sebagai fitonsida atau phytoncide.
Fitonsida merupakan senyawa yang diproduksi tanaman sebagai bagian dari sistem pertahanan alaminya. Ketika seseorang berada sangat dekat dengan pepohonan, senyawa tersebut dapat terhirup bersama udara di sekitarnya.
"Kedua, dan ini yang lebih besar. Apa yang kamu hirup waktu wajah kamu sedekat itu sama pohon. Karena pohon itu mengeluarkan senyawa namanya fitonsida. Aslinya, itu senjata pertahanan mereka buat melawan jamur dan serangga, dan kulit kayu itu salah satu sumber utamanya. Tapi pas manusia menghirupnya, efeknya jadi beda. Sistem saraf kita pindah mode, dari siaga ke istirahat. Detak jantung melambat, tekanan darah turun, dan hormon stres ikut turun," tambah Bang Sap.
Berkaitan dengan Hormon Stres
Bang Sap juga menyebut sejumlah penelitian mengenai aktivitas di lingkungan pepohonan menunjukkan adanya perubahan pada indikator stres. Salah satu indikator yang sering diperhatikan adalah kadar kortisol.
"Dan ini udah diteliti serius. Kadar kortisol dan hormon stres kita turun signifikan selama berada di antara pohon. Penelitian lain nujukin, aktivitas sel imun pembunuh alami naik lebih dari 50 persen setelah satu pekan dan efeknya bisa bertahan lebih dari 30 hari. Di Jepang, praktik ini punya nama sendiri: Shinrin-yoku, dan diakui sebagai bagian dari kesehatan preventif," ujarnya.
Shinrin-yoku atau forest bathing merupakan praktik menghabiskan waktu di lingkungan hutan dengan menikmati suasana alami melalui berbagai indra. Aktivitas tersebut tidak terbatas pada memeluk pohon, tetapi juga dapat berupa berjalan santai, menghirup udara, serta menikmati suara dan suasana pepohonan.
Di sisi lain, keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi penting bagi masyarakat perkotaan yang memiliki akses terbatas terhadap lingkungan alami. Bang Sap menyoroti kondisi RTH di Jakarta yang menurut dia masih jauh dari target.
"Masalahnya, pohonnya udah makin susah dicari. Ruang Terbuka Hijau di Jakarta aja baru 5,6 persen. Jauh dari target 30 persen yang harusnya dicapai paling lambat 2045. Ruang hijau yang cuma ada di perumahan elit itu bukan solusi lingkungan. Itu fasilitas premium yang kebetulan warnanya hijau," kata Bang Sap.
Dia pun mengajak masyarakat untuk menjaga keberadaan pohon dan ruang terbuka hijau. Menurutnya, pohon bukan hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga dapat menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung kualitas hidup masyarakat.
"Jangan-jangan, yang perlu kita selamatkan duluan bukan dompet kita, tapi pohonnya, biar nanti masih ada yang bisa kita peluk," ujarnya.
Artikel Terkait
Piring Plastik dan Melamin Berisiko Migrasi Kimia ke Makanan Panas