Lifting Minyak Tembus Target, Gas Bumi Masih Terseok

- Kamis, 08 Januari 2026 | 13:54 WIB
Lifting Minyak Tembus Target, Gas Bumi Masih Terseok

Setelah hampir satu dekade, akhirnya ada kabar baik dari sektor migas. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan bahwa realisasi lifting minyak pada 2025 berhasil menyentuh target yang ditetapkan dalam APBN. Namun, di sisi lain, cerita untuk lifting gas bumi tak semanis itu targetnya justru meleset.

Untuk minyak, angka yang dicapai memang sedikit di atas target. Realisasinya menyentuh 605.300 barel per hari, atau sekitar 100,05 persen dari target APBN sebesar 605 ribu BOPD.

“Target kita di APBN, lifting itu 605 ribu barrel per day, dan alhamdulillah target kita hari ini mencapai 605,3 atau sama dengan 100,05 persen,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Kamis (8/1).

“Jadi target lifting kita alhamdulillah mencapai target bahkan melampaui, sekalipun ini sedikit,” tambahnya.

Pencapaian ini cukup signifikan. Menurut penjelasan Bahlil, realisasi lifting minyak terakhir kali sesuai target terjadi pada 2015 dan 2016. Sebelumnya, capaian serupa terjadi di tahun 2008, didorong oleh peresmian Lapangan Banyuurip. Artinya, butuh waktu sembilan tahun untuk kembali ke titik ini.

Sayangnya, angin tak selalu berhembus searah. Untuk gas bumi, realisasinya tak sesuai harapan. Hanya tercapai 951,8 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD), sementara target APBN berada di angka 1.005 MBOEPD.

Meski begitu, Bahlil menekankan satu hal yang patut disyukuri: sepanjang tahun lalu, Indonesia sama sekali tidak melakukan impor gas. Padahal, dinamika di awal tahun sempat memunculkan rencana impor LNG hingga 40 kargo.

“Sekalipun di awal tahun terjadi dinamika yang tinggi untuk ada keinginan impor kurang lebih sekitar 40 kargo LNG di awal tahun, tapi berkat kerja keras kita semua, di tahun 2025 tidak ada kita melakukan impor gas,” tegasnya.

Lalu, ke mana produksi gas itu dialirkan? Bahlil menuturkan, pemanfaatan produksi gas bumi yang mencapai 5.600 BBTUD pada 2025 mayoritas sekitar 69 persen diserap untuk kebutuhan dalam negeri. Sisa 31 persennya diekspor.

“Gas dari total produksi kita, 31 persen kita ekspor, 69 persen untuk konsumsi domestik, dari 69 persen itu adalah hilirisasinya 37 persen,” tuturnya.

Jadi, gambaran umumnya begini: minyak berhasil melampaui target walau tipis, sementara gas masih perlu kerja ekstra. Tapi setidaknya, ketahanan energi dari sisi impor gas bisa dipertahankan. Itu pencapaian yang tak bisa dianggap remeh.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar