Dua peristiwa memilukan belakangan ini benar-benar menyayat hati. Seorang anak nekat mengakhiri hidupnya karena tak sanggup beli alat tulis. Di tempat lain, seorang bocah lain tutup usia saat berjualan tisu di jalanan. Kisah-kisah pilu ini memantik reaksi keras dari aktivis HAM Suparman Marzuki.
"Saya menyampaikan duka yang mendalam untuk keluarga kedua anak itu," ujar Suparman. Suaranya terdengar berat.
"Mereka adalah harapan orang tua, tentu juga harapan bangsa. Fenomena semacam ini, sayangnya, terjadi berulang. Dan setiap kali mendengarnya, dada ini terasa sesak."
Menurutnya, ada ironi besar yang terjadi di republik ini. Peristiwa semacam itu bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan struktural yang bersarang lama. Negara, tegas dia, punya tanggung jawab penuh. Bagaimana mungkin anak-anak harus meregang nyawa hanya untuk memperjuangkan kebutuhan paling dasarnya?
"Negara seharusnya malu," katanya dengan nada tegas. "Ini adalah dampak dari kemiskinan struktural yang berlarut-larut, tak kunjung dibereskan."
Suparman yang pernah menjabat Ketua Komisi Yudisial periode 2013-2015 itu lalu membeberkan sejumlah fakta yang menurutnya kontras. Di satu sisi, negara bisa menyumbang Rp 17 triliun untuk proyek perdamaian dunia ala Donald Trump. Lalu, ada pula anggaran Rp 350 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis. Belum lagi dana Rp 400 triliun untuk Koperasi Desa Merah Putih.
Namun begitu, di sisi lain, masih ada anak-anak yang mati memperjuangkan hak fundamental mereka. Ironi itu terasa sangat pahit.
Artikel Terkait
Gencatan Senjata AS-Iran Goyah, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
Waterboom Grand Mall Maros Tawarkan Wahana Air Terjangkau di Dekat Makassar
Proyek Perbaikan Jalan Aroepala Makassar Picu Kemacetan, Diklaim Bukan Sekadar Tambal Sulam
Harga Emas Antam Anjlok Rp50.000 per Gram pada Perdagangan Kamis