Mencintaimu itu ibadah, tapi ibadah yang paling melelahkan. Bukan doa yang hening. Ini ritus panjang yang memaksa lututku bersentuhan dengan batu dan duri, dengan kening yang harus terus bersujud pada satu nama: Indonesia.
Kau kusembah bak kekasih purba yang tak boleh dipertanyakan. Bahkan saat tanganmu berlumur luka, kau sembunyikan di balik senyum upacara dan pidato kenegaraan yang megah.
Dan aku mencintaimu dalam letih. Barangkali justru di situlah kejujurannya. Cinta ini lahir bukan dari kemenangan, tapi dari kelelahan yang tak kunjung diberi jeda.
Kau memang indah, Indonesia. Tapi keindahanmu itu seperti kutukan yang diwariskan turun-temurun. Tubuhmu terbentang laksana puisi geografi yang nyaris sempurna. Punggung pegununganmu menantang langit dengan kesombongan batu purba. Hutan-hutanmu adalah rambut hijau yang dibiarkan terurai diterpa angin khatulistiwa. Lautmu… ah, lautmu bagai sepasang mata yang bisa menenggelamkan segala kesedihan, sekaligus menyimpan terlalu banyak rahasia.
Rempah-rempahmu adalah aroma kulit yang sejak dulu membuat dunia kehilangan nalar. Kau adalah perwujudan agung yang bikin bangsa lain iri sebuah kemolekan geopolitik yang memesona, tapi sekaligus mematikan.
Namun begitu, dari pesona itulah tragedi bermula. Di balik simetri yang memikat, kau menjelma kekasih beracun.
Aku jatuh cinta pada wajahmu. Lalu perlahan, diracuni oleh caramu memperlakukan anak-anakmu sendiri. Setiap hari kau sodorkan piala kebanggaan nasional, tapi isinya cuma empedu yang harus kutelan sambil tersenyum. Kesetiaan ditagih sebagai kewajiban, padahal tubuhku mulai keropos diterpa ketidakadilan yang kau biarkan tumbuh subur, seperti jamur di dinding rumah sendiri.
Keletihanku akhirnya menemukan bentuknya. Aku sadar, kecantikanmu cuma topeng porselen yang menutupi pembusukan sistematis.
Di ranjang peradaban yang katanya merdeka ini, aku dipaksa memeluk kemiskinan seperti pasangan tidur yang tak pernah diusir. Sementara itu, kau pamerkan perhiasan pembangunan yang dicuri dari keringatku. Ketidakadilan bukan lagi tamu. Ia sudah jadi penghuni tetap, pemilik sertifikat yang menentukan siapa boleh hidup layak dan siapa cuma cukup bertahan dari sisa-sisa.
Dalam lanskap seperti ini, para elite tampil bagai filantrop. Suara berat, dahi berkerut penuh kepedulian. Padahal, itu semua hasil menjarah harta rakyat dengan tangan-tangan cekatan mereka merogoh kantong rakyat yang sudah lama berlubang.
Mereka itu selingkuhan kekuasaan yang kau biarkan meniduri hukum di kamar-kamar hotel berpendingin. Sementara aku, anak-anakmu yang setia, cuma bisa menunggu di luar dengan perut kosong dan harapan yang memucat. Negara berubah jadi pesta tertutup. Rakyat cuma diundang sebagai penonton, diminta bertepuk tangan.
Hukum pun ikut kehilangan martabat. Ia menjelma komoditas. Setajam silet bagi yang tak punya pelindung, tapi tumpul dan selembut beludru kalau sudah menyentuh kulit pemilik kuasa dan uang suap.
Aparat yang mestinya melindungi malah berubah jadi tangan dingin yang mencekik kebenaran. Seragam kebanggaan dikenakan seperti zirah. Tapi di baliknya, bersembunyi hasrat purba untuk menguasai, menundukkan, dan menagih. Mereka jadi bandit berseragam negara.
Bersamaan dengan itu, moralitas dijual laksana "bala-bala" jahanan di pinggir jalan pasar kekuasaan. Kejujuran dicibir sebagai kebodohan. Integritas dianggap gangguan mental. Sementara keculasan dipuja-puja sebagai kecerdikan.
Aku lelah. Lelah memuja bayang-bayangmu yang agung, karena realitas yang kusentuh tiap hari cuma duri. Mencintaimu itu seperti memeluk kaktus. Semakin erat kudekap atas nama nasionalisme, semakin dalam duri-duri korupsi menghujam jantungku.
Akupun teringat lagu yang dulu kunyanyikan dengan suara bergetar di bawah terik matahari upacara. “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku.” Dulu, kalimat itu terdengar sakral. Seperti janji abadi antara anak dan ibu.
Tapi bagaimana aku bisa berdiri tegak jadi pandu bagimu, kalau tanah yang kupijak dijual petak demi petak oleh mereka yang bersumpah setia di atas kitab suci? Darah yang tumpah sekarang bukan darah pahlawan lagi. Itu darah harapan yang tercecer di lantai birokrasi, licin oleh intrik.
Aku jadi pandu bagi kapal yang nakhodanya sibuk melubangi lambungnya sendiri. Katanya, kapal itu tetap berlayar karena grafik ekonomi menanjak. Tapi aku tahu. Di bawah garis air, kebocoran sudah merendam ruang-ruang kehidupan. Setiap tepuk tangan di forum internasional dibayar dengan kesunyian desa-desa yang kehilangan tanah, laut, dan masa depan.
Di tengah semua ini, aku diajari berdoa agar Indonesia bahagia. Sebuah doa yang sekarang terdengar seperti satire yang getir. Bagaimana mungkin kebahagiaan tumbuh di tanah yang kesuburannya cuma dinikmati segelintir tuan tanah? Mereka bersembunyi di balik pasal-pasal regulasi. Kebahagiaan sudah jadi barang mewah, cuma terjangkau oleh mereka yang punya akses ke lingkaran kekuasaan. Rakyat cuma diminta bersabar. Seolah-olah kesabaran bisa menggantikan makan malam.
Janji tentang Indonesia yang mulia pelan-pelan berubah jadi mimpi buruk di siang bolong.
Kita bersumpah menjaga tanah yang sakti dan jaya. Tapi kesaktian itu runtuh ketika hukum bisa dibeli seperti kudapan murah. Kejayaan terdengar kosong saat anak-anak belajar di ruang kelas yang nyaris roboh, sementara para pejabat membangun dinasti dari tumpukan suap.
Putra-putrimu yang paling berani dibungkam. Rakyatmu yang paling jujur disingkirkan. Semua agar panggung tetap lapang bagi para penjilat kekuasaan.
Keletihanku memuncak saat menatap wajah pemimpin yang kuberi amanah. Dia aktor yang sempurna. Tahu kapan harus tersenyum, kapan suaranya harus bergetar saat bilang siap mati demi rakyat.
Kata-kata itu dulu bikin aku terharu. Sekarang, ia terdengar seperti dialog usang dari drama yang terlalu lama dipentaskan. Sebab ketika rakyat benar-benar mati di stadion, di tambang, di jalanan yang dipenuhi gas air mata dia tidak sedang bersiap mati. Dia sedang menyusun alibi.
Dengan dingin, nyawa disebut sebagai ‘risiko pembangunan’. Sebuah kalimat yang mereduksi manusia jadi angka. Darah jadi pelumas mesin ekonomi.
Pemimpin yang mengaku siap mati itu ternyata cuma siap membiarkan rakyatnya mati. Asal proyek berjalan dan kekuasaannya tetap lestari. Infrastruktur fisik dibangun megah. Sementara infrastruktur moral bangsa diruntuhkan secara sistematis.
Aku benar-benar lelah, Indonesia. Kau tetap cantik dalam kehancuranmu. Tetap memesona dalam toksisitasmu.
Aku ingin pergi. Tapi akarku sudah terhunjam terlampau dalam. Aku terjebak dalam hubungan yang abusive. Dipukul oleh kebijakan, lalu diminta mencium tangan saat lagu kebangsaan dikumandangkan.
Kau terus ingatkan aku pada kejayaan masa lalu. Seolah-olah nostalgia bisa mengenyangkan perut hari ini.
Mencintaimu sudah jadi tindakan masokis yang dilembagakan. Aku menyerahkan hidupku, tapi cuma diingat saat suaraku dibutuhkan. Selebihnya, aku disingkirkan dengan rapi oleh ujung pena kebijakan.
Indonesia, kau adalah rumah yang kusayangi. Tapi mengapa aku dibiarkan menggigil di teras, sementara para pencuri tidur nyenyak di kamarmu sendiri?
Saat beranjak ke peraduan, ada gumam yang lirih.
“Aku bisa menulis bait paling letih tentangmu malam ini: bahwa aku mencintaimu dengan seluruh luka yang kau berikan. Dan justru karena cinta itulah aku ingin menamparmu bukan karena rasa sakitku, tapi untuk menyadarkanmu. Demikianlah rasa sakit itu.”
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah