Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah

- Kamis, 08 Januari 2026 | 03:00 WIB
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah

Mencintaimu itu ibadah, tapi ibadah yang paling melelahkan. Bukan doa yang hening. Ini ritus panjang yang memaksa lututku bersentuhan dengan batu dan duri, dengan kening yang harus terus bersujud pada satu nama: Indonesia.

Kau kusembah bak kekasih purba yang tak boleh dipertanyakan. Bahkan saat tanganmu berlumur luka, kau sembunyikan di balik senyum upacara dan pidato kenegaraan yang megah.

Dan aku mencintaimu dalam letih. Barangkali justru di situlah kejujurannya. Cinta ini lahir bukan dari kemenangan, tapi dari kelelahan yang tak kunjung diberi jeda.

Kau memang indah, Indonesia. Tapi keindahanmu itu seperti kutukan yang diwariskan turun-temurun. Tubuhmu terbentang laksana puisi geografi yang nyaris sempurna. Punggung pegununganmu menantang langit dengan kesombongan batu purba. Hutan-hutanmu adalah rambut hijau yang dibiarkan terurai diterpa angin khatulistiwa. Lautmu… ah, lautmu bagai sepasang mata yang bisa menenggelamkan segala kesedihan, sekaligus menyimpan terlalu banyak rahasia.

Rempah-rempahmu adalah aroma kulit yang sejak dulu membuat dunia kehilangan nalar. Kau adalah perwujudan agung yang bikin bangsa lain iri sebuah kemolekan geopolitik yang memesona, tapi sekaligus mematikan.

Namun begitu, dari pesona itulah tragedi bermula. Di balik simetri yang memikat, kau menjelma kekasih beracun.

Aku jatuh cinta pada wajahmu. Lalu perlahan, diracuni oleh caramu memperlakukan anak-anakmu sendiri. Setiap hari kau sodorkan piala kebanggaan nasional, tapi isinya cuma empedu yang harus kutelan sambil tersenyum. Kesetiaan ditagih sebagai kewajiban, padahal tubuhku mulai keropos diterpa ketidakadilan yang kau biarkan tumbuh subur, seperti jamur di dinding rumah sendiri.

Keletihanku akhirnya menemukan bentuknya. Aku sadar, kecantikanmu cuma topeng porselen yang menutupi pembusukan sistematis.

Di ranjang peradaban yang katanya merdeka ini, aku dipaksa memeluk kemiskinan seperti pasangan tidur yang tak pernah diusir. Sementara itu, kau pamerkan perhiasan pembangunan yang dicuri dari keringatku. Ketidakadilan bukan lagi tamu. Ia sudah jadi penghuni tetap, pemilik sertifikat yang menentukan siapa boleh hidup layak dan siapa cuma cukup bertahan dari sisa-sisa.

Dalam lanskap seperti ini, para elite tampil bagai filantrop. Suara berat, dahi berkerut penuh kepedulian. Padahal, itu semua hasil menjarah harta rakyat dengan tangan-tangan cekatan mereka merogoh kantong rakyat yang sudah lama berlubang.

Mereka itu selingkuhan kekuasaan yang kau biarkan meniduri hukum di kamar-kamar hotel berpendingin. Sementara aku, anak-anakmu yang setia, cuma bisa menunggu di luar dengan perut kosong dan harapan yang memucat. Negara berubah jadi pesta tertutup. Rakyat cuma diundang sebagai penonton, diminta bertepuk tangan.

Hukum pun ikut kehilangan martabat. Ia menjelma komoditas. Setajam silet bagi yang tak punya pelindung, tapi tumpul dan selembut beludru kalau sudah menyentuh kulit pemilik kuasa dan uang suap.

Aparat yang mestinya melindungi malah berubah jadi tangan dingin yang mencekik kebenaran. Seragam kebanggaan dikenakan seperti zirah. Tapi di baliknya, bersembunyi hasrat purba untuk menguasai, menundukkan, dan menagih. Mereka jadi bandit berseragam negara.

Bersamaan dengan itu, moralitas dijual laksana "bala-bala" jahanan di pinggir jalan pasar kekuasaan. Kejujuran dicibir sebagai kebodohan. Integritas dianggap gangguan mental. Sementara keculasan dipuja-puja sebagai kecerdikan.

Aku lelah. Lelah memuja bayang-bayangmu yang agung, karena realitas yang kusentuh tiap hari cuma duri. Mencintaimu itu seperti memeluk kaktus. Semakin erat kudekap atas nama nasionalisme, semakin dalam duri-duri korupsi menghujam jantungku.

Akupun teringat lagu yang dulu kunyanyikan dengan suara bergetar di bawah terik matahari upacara. “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku.” Dulu, kalimat itu terdengar sakral. Seperti janji abadi antara anak dan ibu.


Halaman:

Komentar