Jakarta – Ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026), menyaksikan sebuah momen yang cukup personal. Di tengah proses hukum yang menjeratnya terkait kasus pengadaan laptop Chromebook, Nadiem Makarim justru membagikan secuil refleksi hidupnya. Mantan Mendikbudristek itu berbicara tentang Indonesia, tentang alasan pulang, dan tentang harapan yang menurutnya tak boleh padam.
Dia menegaskan satu hal: Indonesia, bagaimanapun kondisinya, tetap layak diperjuangkan. Terutama oleh anak-anak mudanya, baik yang ada di dalam negeri maupun yang sedang merantau jauh.
“Saat ide Gojek datang, saya masih belajar di Amerika. Namun saya memutuskan kembali ke Indonesia karena saya percaya negara ini punya potensi besar,” ujarnya.
Gagasan tentang perusahaan ride-hailing raksasa itu memang muncul ketika ia menempuh studi magister di AS. Tapi nalurinya membawanya pulang. Ia memilih membangun segalanya dari sini, dari Tanah Air. Dan pilihannya itu terbukti. Gojek tumbuh pesat, bukan cuma jadi perusahaan teknologi, tapi juga pencipta lapangan kerja bagi jutaan orang dan pembuka pintu ekonomi yang lebar.
Kisah sukses itu kemudian membawanya ke peran lain: memimpin Kementerian Pendidikan. Di sana, fokusnya beralih pada upaya membenahi kualitas generasi penerus bangsa.
Namun begitu, di sela pernyataannya di pengadilan, Nadiem menyelipkan pesan khusus. Pesan itu ditujukan buat pemuda Indonesia yang kini sedang menuntut ilmu atau berkarier di luar negeri. Ia mengaku paham betul perasaan kecewa dan ragu yang sering menyergap ketika melihat beragam masalah di dalam negeri dari kejauhan.
Artikel Terkait
Prakiraan Cuaca Sulsel Jumat: Cerah Berpotensi Hujan Sedang di Sejumlah Kabupaten
Pria di Palopo Meninggal Gantung Diri Usai Tunjukkan Perilaku Mengkhawatirkan
Jenazah Perempuan Ditemukan Mengapung di Sungai Paria Barru, Diduga Korban Tenggelam Saat Cari Kerang
Kisah Prajurit Ngatijan dan Ilmu Kebal yang Selamatkan Rekan dari Tembakan Belanda di Papua