BANJAR – Sudah sepuluh hari berlalu, namun ratusan warga Sungai Tabuk di Kabupaten Banjar masih terpaksa tinggal di posko-posko pengungsian. Banjir yang tak kunjung surut itu masih menyisakan genangan di 21 desa di kecamatan tersebut. Kehidupan di pengungsian pun punya tantangannya sendiri, salah satunya soal jatah makan yang jadwalnya tak menentu.
Mega, salah seorang pengungsi, mengakui bahwa kebutuhan khusus seperti untuk balita biasanya selalu ada. Tapi untuk makanan siap santap, ceritanya lain. "Untuk bantuan makanan, terkadang kami cuma dapat satu kali sehari, kadang dua kali. Tidak pasti jadwalnya," ujarnya pada Kamis lalu.
Keluhan seperti ini terdengar di beberapa titik. Jadwal distribusi yang berubah-ubah memaksa warga harus cermat mengatur stok makanan yang ada. Siapa tahu, bantuan berikutnya baru datang esok hari.
Menanggapi hal ini, Achmadi dari BPBD Kalimantan Selatan berusaha menjelaskan. Pihaknya, lewat dapur umum, berupaya memproduksi 7.500 porsi makanan setiap harinya.
Artikel Terkait
Duel Sengit di Coliseum: Getafe vs Real Sociedad Berebut Angin Segar
Nakhoda dan ABK Mesin KM Putri Sakinah Resmi Jadi Tersangka
Mensos: Sekolah Rakyat Tambah 200 Titik, Targetkan 45.000 Siswa pada 2027
Gus Yahya Tegaskan Sikap: Hukum Harus Jalan Meski untuk Saudara Sendiri