Perutmu Bisa Jadi Korban dari Terlalu Banyak Baca Berita Politik

- Jumat, 09 Januari 2026 | 01:00 WIB
Perutmu Bisa Jadi Korban dari Terlalu Banyak Baca Berita Politik

Terlalu banyak berita politik ternyata punya dampak yang diam-diam kita rasakan di tubuh. Saya bukan anti berita, lho. Politik juga bukan hal yang saya hindari. Dulu, saya sendiri pernah jadi wartawan foto untuk tabloid Detik. Waktu itu, tabloid politik terkemuka itu oplahnya mencapai setengah juta eksemplar setiap terbit. Tapi, pada 21 Juni 1994, pemerintah Orde Baru membreidelnya.

Namun begitu, dari pengalaman saya mendampingi banyak orang dalam proses self healing, satu hal semakin jelas: tubuh manusia itu jauh lebih sensitif dari yang kita duga. Sayangnya, kita sering baru sadar ketika semuanya sudah telat.

Banyak peserta training terapi tapping private online datang dengan keluhan yang mirip. Bukan keluhan berat-berat amat, justru yang sering dianggap sepele. Asam lambung naik, perut terasa tak nyaman, dada sesak, kepala berat, atau tidur yang tak pernah benar-benar lelap. Kalau ditanya penyebabnya, jawabannya selalu terdengar masuk akal: telat makan, salah pilih makanan, terlalu pedas, atau terlalu asam.

Tapi, pengalaman mengajarkan saya hal lain. Tidak semua keluhan fisik itu bermula dari fisik semata.

Dalam sesi training, saya sering bilang begini:

"Tubuh nggak peduli apakah kita menganggap sesuatu penting atau enggak. Selama emosi bergerak, tubuh akan merespons."

Nah, coba bayangkan. Ketika seseorang terlalu sering membaca berita politik apalagi yang penuh konflik, ketegangan, dan ketidakpastian pikiran mungkin cuma bilang, "Saya cuma ingin tahu." Tapi tubuh kita menangkapnya sebagai ancaman, sebagai tekanan.

Sistem saraf langsung masuk mode siaga. Napas jadi pendek tanpa kita sadari. Otot-otot mengencang. Pencernaan melambat. Ini bukan cuma teori, lho. Ini respons biologis yang nyata.

Dan yang menarik, banyak dari mereka ini "tidak merasa sedang stres". Mereka cuma merasa lelah aja, atau badan serasa nggak enak, atau perut yang tiba-tiba bermasalah.

Dari sekian banyak organ, pencernaan adalah cermin emosi yang paling jujur. Ia yang paling cepat "bicara". Dalam pendekatan self healing, lambung dan usus sering jadi tempat pelarian bagi emosi yang nggak sempat kita sadari dan lepaskan.

Ilmu kesehatan modern sebenarnya sudah mengenal konsep "gut–brain axis", yaitu jalur komunikasi dua arah antara otak dan usus. Emosi memengaruhi pencernaan, dan sebaliknya. Makanya, stres bisa langsung terasa di perut, bahkan sebelum pikiran rasional kita menyadarinya.

Saya melihat pola ini berulang kali. Asam lambung naik bukan cuma soal makan. Maag bukan sekadar urusan telat makan. Dalam banyak kasus, ada ketegangan emosi yang dipendam terlalu lama di baliknya.

Yang paling disayangkan sih ini: kita langsung menyimpulkan asam lambung sebagai murni masalah makanan. Perut nggak nyaman cuma dianggap urusan jadwal makan. Padahal, bisa jadi tubuh kita sedang kelelahan menyimpan emosi rasa cemas, marah, frustrasi yang setiap hari dipicu oleh informasi yang kita lahap.

Kesadaran bahwa tubuh dan emosi itu saling terhubung masih jarang, ya. Kita cepat menyalahkan tubuh, tapi jarang bertanya pada diri sendiri: "sebenarnya, apa yang sedang saya simpan di pikiran dan perasaan saya belakangan ini?"

Di sisi lain, berita politik memang punya daya tarik emosional yang kuat. Ia menyentuh rasa keadilan kita, rasa aman, juga kekhawatiran akan masa depan. Kita ikut merasakan gelombang emosi itu, tapi seringkali nggak punya ruang untuk menyalurkannya.

Nggak dibicarakan. Nggak dilepaskan. Bahkan, nggak diakui.

Dalam dunia trauma dan stres, ada ungkapan terkenal: “the body keeps the score”. Tubuh mencatat semua hal yang nggak sempat diselesaikan oleh pikiran. Dengan kata lain, emosi yang tidak disadari akan disimpan oleh tubuh.

Dan pencernaan sering menjadi tempat penyimpanan utamanya.

Saya menulis ini bukan untuk mengajak kita menutup diri dari realitas. Kita tetap perlu tahu apa yang terjadi di luar. Tapi saya percaya, nggak semua informasi perlu dikonsumsi tanpa batas.

Dalam self healing, kuncinya ada pada kesadaran. Menyadari kapan informasi berubah jadi tekanan. Menyadari kapan tubuh mulai menunjukkan kelelahan. Menyadari kapan kita harus berhenti sejenak dan mengambil napas.

Kadang, yang dibutuhkan tubuh bukan obat atau suplemen. Melainkan ruang untuk kembali merasa aman.

Berita politik mungkin cuma kita baca lewat layar genggam, tapi dampaknya bisa terasa nyata di tubuh terutama di perut. Tubuh itu selalu jujur. Ia akan memberi sinyal ketika sesuatu sudah terlalu berat untuk terus ditahan.

Bagi saya, self healing bukan soal menghindari dunia. Ini lebih tentang belajar hadir di dalam tubuh sendiri. Mendengarkan sinyal-sinyal halus yang selama ini kita abaikan begitu saja.

Karena kesehatan bukan cuma tentang apa yang kita makan, tapi juga tentang "apa yang setiap hari kita izinkan masuk ke pikiran dan emosi kita."


Penulis :

Yuyun Wardhana adalah praktisi sekaligus trainer self healing Terapi Tapping Indonesia. Sudah 19 tahun ia menekuni teknik self healing berbasis EFT, dan telah membantu ribuan peserta training mengatasi berbagai keluhan, baik fisik maupun psikis, dengan teknik Terapi Tapping tersebut.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar