Dari Emas PON ke Final Futsal Kampus, Nizrina Siap Balas Dendam di Nasional

- Selasa, 02 Desember 2025 | 16:24 WIB
Dari Emas PON ke Final Futsal Kampus, Nizrina Siap Balas Dendam di Nasional

Setahun silam, Nizrina Fauziah berjaya di lapangan hijau. Ia membawa pulang medali emas cabang sepak bola wanita di PON 2024 Aceh-Sumut. Kini, atmosfer final kembali ia rasakan, meski di arena yang berbeda. Bukan lagi sepak bola, melainkan di final futsal Campus League regional Jakarta. Kompetisi antar-kampus ini memang digelar di empat kota, dan Nizrina berhasil membawa timnya melangkah jauh.

Perempuan kelahiran Indramayu, 9 Mei 2004, itu tampil dengan ban kapten di lengan. Ia memimpin tim futsal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dengan gemilang. Di bawah komandonya, UPI Bandung menembus final regional yang digelar di Kampus Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun. Sayangnya, cerita manis setahun lalu tak terulang.

Timnya harus mengakui keunggulan STKIP Pasundan Cimahi dengan skor tipis 1-2. Hasil itu tentu mengecewakan, tapi Nizrina tak terlihat patah arang.

“Kita sudah berjuang sampai titik darah penghabisan, sudah mati-matian. Mungkin hanya kurang beruntung. Masih ada fase nasional, kita balas di sana,”

Ucapnya penuh semangat. Ia merujuk pada fase nasional Campus League Futsal 2025 yang akan digelar Desember mendatang. Di sana, ia dan tim punya kesempatan untuk membalas kekalahan ini.

Meski gagal juara, torehan Nizrina sungguh luar biasa. Enam gol ia cetak di fase regional ini. Sebuah pencapaian yang tak bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya, banyak pelajaran dari dunia sepak bola wanita yang ia terapkan di lapangan futsal.

“Terutama di pengendalian mental. Yang mengendalikan mental teman-teman ketika nervous seperti apa. Terus kedisiplinan sih yang paling utama. Saya bisa lebih jaga makan, jaga pola tidur. Dari training camp dua tahun itu cukup memberikan efek yang luar biasa,”

Jelasnya. Pengalaman itu membentuknya menjadi atlet yang lebih tangguh.

Kini, porsi latihannya lebih banyak dihabiskan untuk futsal. Bukan tanpa alasan. Ia merasa perlu memanfaatkan ritme latihan yang lebih terjaga dan teratur di kampusnya. Soal adaptasi? Nizrina mengaku tak menemui kendala berarti saat berpindah dari sepak bola ke futsal, atau sebaliknya.

“Dua-duanya juga enak ya, tergantung cara kita lebih bisa adaptasi aja sih. Seperti setahun terakhir ini saya lebih banyak latihan di futsal. Karena di kampus saya ikutnya UKM di futsal,”

tambahnya.

“UKM sepak bola (kampus saya) kurang aktif. Yang lebih besar latihan di futsal. Makanya saya memanfaatkan latihan di futsal yang terjaga, teratur. Kalau masalah lebih enak dimana sih, dua-duanya enak ya. Mungkin untuk sekarang lebih enak di futsal karena adaptasinya lebih lama di futsal,”

tutupnya. Pilihannya kini jelas, tapi semangat juangnya di kedua cabang olahraga itu tetap sama membara.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar