Harga emas dunia berpotensi melesat jauh. Menurut proyeksi terbaru, logam mulia itu bisa menembus level fantastis: USD 5.000 per ons di paruh pertama 2026. Gejolak geopolitik, tekanan fiskal yang makin berat, dan permintaan investasi yang tak kunjung surut jadi pendorong utamanya.
James Steel, analis HSBC, mengakui bahwa perdagangan emas akan tetap fluktuatif. Bahkan, penurunan tajam masih mungkin terjadi. Tapi, dalam catatannya, dia melihat ada dukungan mendasar yang kuat untuk harga dalam waktu dekat ini.
Momentumnya memang sedang bagus. Emas sempat mencetak rekor di angka USD 4.548 per ons pada akhir Desember 2025 lalu. Reli itu, yang dipicu arus safe-haven, kebijakan yang tak pasti, dan dolar AS yang melemah, berpeluang mengantarkan harga lebih tinggi lagi di awal tahun depan.
Begitu tulis Steel dalam sebuah catatan, Kamis (8/1/2026).
Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih jadi motor utama. Steel menyoroti perang di Ukraina yang belum berakhir, perubahan arah kebijakan luar negeri AS, persaingan sengit dengan China, plus konflik di Timur Tengah. Semua itu, kata dia, terus menyokong permintaan. Tapi hati-hati, pelonggaran ketegangan sedikit saja bisa dengan cepat melemahkan harga emas nanti.
Artikel Terkait
Di Balik Saham TRIN yang Melonjak 1.261%, Siapa Pengendali Sebenarnya?
Rahayu Saraswati Resmi Kuasai 5% Saham Trinland, Transaksi Rp45,5 Miliar di Bawah Harga Pasar
MNC Energy Klaim Operasional Tambangnya Kebal Aturan Daerah Berkat Jalan Khusus
Pemain Besar Beramai-ramai Jual, Saham Bakrie dan Salim Masih Panaskah?