Pasar Tenaga Kerja AS 2025: Klaim Pengangguran Turun, Tapi Optimisme Masih Tertahan

- Minggu, 04 Januari 2026 | 18:30 WIB
Pasar Tenaga Kerja AS 2025: Klaim Pengangguran Turun, Tapi Optimisme Masih Tertahan

Di sisi lain, ada indikator lain yang sedikit mendingin. Jumlah orang yang masih menerima tunjangan setelah minggu pertama kerap jadi tolok ukur perekrutan turun 47.000 menjadi 1,866 juta di pertengahan Desember. Angka klaim berkelanjutan sempat nyaris sentuh 2 juta pada akhir Oktober, lalu turun perlahan. Tapi, posisinya masih lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun lalu. Survei terbaru Conference Board bahkan menyebut, persepsi konsumen terhadap pasar kerja memburuk dan kembali ke level awal 2021.

Ini semua terjadi di tengah ekonomi yang secara keseluruhan terlihat solid. Pertumbuhan PDB kuartal III 2025 disebut-sebut yang tercepat dalam dua tahun. Tapi pasar kerjanya? Stagnan. Banyak ekonom menyoroti kebijakan era kedua Presiden Trump, seperti tarif impor tinggi dan pengetatan imigrasi, yang dianggap membatasi pasokan tenaga kerja dan menekan dinamika.

Faktanya, sepanjang 2025, perekrutan melambat dengan tajam. Hingga November, rata-rata hanya tercipta 55.000 lapangan kerja baru per bulan hanya sepertiga dari tahun sebelumnya. Perusahaan-perusahaan sepertinya memilih untuk menahan diri. Mereka menunggu kejelasan arah kebijakan sekaligus menyesuaikan diri dengan otomatisasi dan teknologi AI.

Akibatnya, penciptaan lapangan kerja nyaris hanya cukup untuk menahan laju pengangguran agar tidak melonjak lebih tinggi. Tingkat pengangguran pada November sudah berada di 4,6 persen, level tertinggi dalam empat tahun. Angka Desember, menurut pelacak Federal Reserve Bank of Chicago, tetap bertahan di level yang sama.

Semua mata kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan Desember 2025 yang akan dirilis Departemen Tenaga Kerja AS pada 9 Januari 2026. Laporan itulah yang nanti akan memberi gambaran lebih jelas, apakah penurunan klaim pekan lalu sekadar kejutan musiman, atau benar-benar awal dari sebuah tren.


Halaman:

Komentar