Ekonomi Digital Indonesia Tembus USD 100 Miliar, AI Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

- Jumat, 10 April 2026 | 14:20 WIB
Ekonomi Digital Indonesia Tembus USD 100 Miliar, AI Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

JAKARTA – Pemerintah melihat digitalisasi dan kecerdasan buatan bukan sekadar tren. Lebih dari itu, teknologi ini diyakini bakal jadi mesin baru untuk mendongkrak perekonomian nasional. Fakta yang cukup mencengangkan, nilai ekonomi digital Indonesia saat ini nyaris menyentuh angka 100 miliar dolar AS.

Pernyataan itu disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara GrabX 2026, Rabu (8/4/2026).

“Pemerintah memandang digitalisasi dan AI sebagai mesin pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia. Indonesia memiliki nilai ekonomi digital yang sangat menjanjikan, nilai ekonomi digital Indonesia hampir mencapai USD 100 miliar,” jelas Airlangga.

Posisi Indonesia di peta inovasi global memang sedang naik daun. Menurut Global Innovation Index 2025, kita ada di peringkat 55. Lumayan jauh melompat dari posisi 85 di tahun 2020. Kemajuan ini juga terlihat dari ekosistem startup yang semakin subur. Sekitar 3.200 startup telah berdiri, dengan tujuh di antaranya berstatus unicorn global yang bergerak di bidang fintech, e-commerce, transportasi, hingga makanan dan minuman.

Di sisi lain, pendapatan dari aplikasi berbasis AI di Indonesia turut menyumbang peningkatan ekonomi digital Asia Tenggara. Hal ini makin mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu pasar AI paling menjanjikan di kawasan Asia.

Tapi, jalan menuju transformasi digital tak selalu mulus. Perkembangan teknologi yang pesat justru menggeser kebutuhan tenaga kerja. Laporan World Economic Forum memproyeksikan sekitar 22 jenis pekerjaan akan berubah dalam beberapa tahun mendatang. Karena itulah, ketersediaan talenta digital yang adaptif dan inovatif menjadi kunci utama. Tanpa itu, transformasi sulit berjalan inklusif dan berkelanjutan.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah tak tinggal diam. Berbagai inisiatif strategis digulirkan, salah satunya kolaborasi dengan Arm Holdings untuk pengembangan kapasitas teknologi. Tahun ini saja, targetnya melatih 15.000 talenta di bidang AI.

Pada skala yang lebih luas, Indonesia juga aktif mendorong penyusunan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Kerangka kerja ini diharapkan bisa ditandatangani tahun 2026 di bawah kepemimpinan Filipina. Jika terwujud, DEFA akan menjadi fondasi kokoh untuk integrasi dan pertumbuhan ekonomi digital di kawasan ASEAN.

Dalam kesempatan itu, Airlangga juga menyampaikan apresiasi kepada Grab Indonesia atas penyelenggaraan GrabX 2026. Menurutnya, acara ini jadi platform yang tepat untuk meluncurkan inovasi berbasis AI yang mendukung mitra pengemudi, UMKM, dan konsumen.

“Agar aplikasi AI GrabX ini tidak hanya digunakan secara eksklusif oleh pengemudi dan mitra, tetapi juga oleh merchant, sehingga mereka dapat meningkatkan efisiensi serta memiliki level playing field yang setara dengan peritel modern di sekitar mereka,” pungkas Airlangga.

Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi AI bisa mengoptimalkan daya beli para mitra, khususnya usaha kecil dan menengah. Data yang tersedia secara instan mulai dari tren penjualan hingga ringkasan pelanggan tentu akan sangat membantu pelaku UMKM dalam menentukan produk yang perlu dikembangkan.

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan pelaku bisnis, seperti Menteri UMKM Maman Abdurahman, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono, Co-Founder dan CEO Grab Holdings Anthony Tan, serta CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar