Bursa Asia mencatat penguatan pada perdagangan Rabu (27/5/2026), ditopang oleh lonjakan saham-saham terkait chip yang mendorong indeks Nikkei Jepang ke level rekor tertinggi baru. Di tengah optimisme pasar yang didorong oleh sektor kecerdasan buatan, harga minyak dunia tetap bertahan di level tinggi, menciptakan dinamika tersendiri di kawasan.
Indeks Nikkei (N225) ditutup menguat 1,25 persen ke posisi 65.811,78 setelah sempat menyentuh rekor intraday di angka 66.428,81 pada awal sesi. Sementara itu, indeks Topix (TOPX) hanya mencatat kenaikan tipis 0,15 persen ke level 3.944,19, menunjukkan bahwa penguatan pasar tidak merata di semua sektor.
Kepala Strategi di Iwaicosmo Securities, Kazuaki Shimada, menjelaskan bahwa arus dana investor saat ini terkonsentrasi pada saham-saham terkait chip yang tengah melambung tinggi.
“Saham-saham bernilai terabaikan karena tidak ada alasan untuk membelinya saat saham-saham teknologi memberikan imbal hasil yang solid,” ujarnya.
Shimada menambahkan bahwa pergerakan pasar Asia mengikuti pola yang serupa dengan Wall Street semalam, di mana saham semikonduktor memimpin kenaikan sementara indeks Dow Jones justru mengalami penurunan. Di Amerika Serikat, S&P 500 dan Nasdaq berhasil mencapai rekor penutupan tertinggi pada Selasa (26/5/2026) berkat optimisme yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan, meskipun kekhawatiran atas pembicaraan perdamaian di Timur Tengah masih membayangi.
Di Jepang, saham produsen peralatan pembuatan chip Tokyo Electron dan produsen peralatan pengujian chip Advantest masing-masing melonjak lebih dari 5 persen. Namun, tidak semua saham di sektor teknologi bernasib sama. SoftBank Group justru merosot 4,3 persen, sementara perancang chip Socionext turun 5,8 persen dan menjadi saham dengan penurunan persentase terbesar di Nikkei.
Analis Pasar di Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, Shuutarou Yasuda, menilai bahwa investor mulai mengalihkan fokus mereka di antara saham-saham bertema kecerdasan buatan. “Bahkan di antara saham-saham bertema kecerdasan buatan, para investor sedang mengalihkan fokus mereka,” katanya.
Di sisi lain, sektor keuangan justru mengalami tekanan. Saham Mitsubishi UFJ Financial Group dan Mizuho Financial Group masing-masing turun 0,49 persen dan 0,95 persen. Indeks perbankan Topix melemah 0,76 persen, sementara indeks properti menjadi yang berkinerja terburuk di antara 33 sub-indeks sektor dengan penurunan 1,48 persen.
Dari total hampir 1.600 saham yang diperdagangkan di bursa utama Tokyo, sebanyak 44 persen mencatat kenaikan, 52 persen mengalami penurunan, dan tiga persen lainnya diperdagangkan datar. Sementara itu, dalam pertemuan para gubernur bank sentral di Tokyo, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menyampaikan bahwa guncangan pasokan semakin mengkhawatirkan.
Artikel Terkait
BEI Rombak Indeks Saham Syariah, Tujuh Saham Baru Masuk JII per Mei 2026
Anak Usaha Chandra Asri Resmi Kelola Pelabuhan di Cilegon Perkuat Logistik Industri Petrokimia
Serangan AS di Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Brent, Selat Hormuz Kembali Terancam
S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Penutupan Tertinggi, Saham AI dan Semikonduktor Pimpin Penguatan