ZENICA Rasanya seperti mimpi. Bosnia dan Herzegovina, tim yang jarang disebut-sebut, justru berhasil melenggang ke Piala Dunia 2026. Yang lebih menggemparkan lagi, mereka harus menyingkirkan raksasa Eropa, Italia, untuk mencapainya. Di tengah euforia itu, pelatih Sergej Barbarez tampak tenang, meski kebahagiaannya terpancar jelas.
“Saya bilang ke anak-anak, keluar dan nikmati saja permainannya. Titik,” ujar Barbarez, mengulang pesannya sebelum laga. Nasihat sederhana itu rupanya ampuh.
Ia mengaku jarang merasakan ketenangan seperti ini. “Biasanya deg-degan, kan? Tapi malam ini berbeda. Saya belum pernah memulai atau mengakhiri pertandingan dengan perasaan sesantai ini,” tuturnya, seperti dikutip dari situs resmi UEFA.
Barbarez lalu memandang para pemainnya dengan bangga. “Saya lihat di mata mereka saya sangat sayang pada mereka. Ini adalah orang-orang berkarakter. Kami punya pemain yang bisa dibanggakan. Rencana kami sebenarnya untuk dua tahun lagi, tapi mereka memangkas jadwal itu.”
p>“Sekarang saya sudah bilang, kita harus datang ke turnamen besar setiap dua tahun,” sambungnya, setengah bergurau, setengah serius.Namun begitu, jalan menuju kemenangan tak mulus. Barbarez jujur mengakui timnya sempat limbung di awal. “Babak pertama kami agak kacau. Organisasi kurang, posisi jebol, dan kami lalai mengawasi pergerakan lawan. Makanya kami sempat keteteran menghadapi serangan balik mereka.”
Tapi sesuatu berubah. “Tapi lihatlah, melawan tim sekelas Italia yang bertahan bagus bahkan dengan sepuluh pemain, kami justru percaya diri. Kepercayaan itu muncul sejak menit pertama, dan itu kunci,” jelasnya.
Pembicaraan kemudian beralih ke keputusan berani Barbarez pada laga sebelumnya. Saat menang adu penalti atas Wales, Kamis lalu, ia menunjuk bocah 18 tahun, Kerim Alajbegović, sebagai eksekutor.
“Sebenarnya sempat terpikir untuk menurunkan Kerim dari awal, menggantikan Esmir Bajraktarević yang habis bermain 120 menit melawan Wales,” papar Barbarez.
“Tapi akhirnya kami putuskan untuk menyimpannya sebagai bagian dari rencana cadangan. Dia baru 18 tahun, musim senior pertamanya. Kadang-kadang, hal-hal seperti ini perlu dicoba. Dia paham situasinya, kami sudah bicara panjang lebar.”
“Saya juga ingin menghemat tenaga Benja Tahirović. Ya, begitulah keputusannya,” tandas pelatih itu, menutup penjelasan.
Artikel Terkait
Turnamen Padel Senior Makassar Siap Digelar, 24 Pasang Pemain Berebut Tiket Final
Persija Akhiri Kontrak Pelatih Mauricio Souza Usai Gagal Bawa Tim Juara Super League 2025/2026
Jarrod Bowen Bertekad Bawa West Ham Kembali ke Liga Primer Usai Degradasi
Alwi Farhan Kalahkan Toma Junior Popov, Tantang Shi Yuqi di 16 Besar Singapore Open 2026