IHSG akhirnya bangkit. Setelah sehari terpuruk oleh sentimen negatif, bursa saham Indonesia menutup perdagangan Rabu (8/4/2026) dengan kenaikan yang cukup signifikan. Pasar seolah menarik napas lega.
Sehari sebelumnya, situasinya suram. Indeks Harga Saham Gabungan bertengger di 6.971,03, sementara rupiah terdepak hingga ke level Rp17.100 per dolar AS. Pemicunya? Eskalasi ketegangan AS-Iran dan harga minyak yang melonjak, yang membuat para investor memilih bermain aman. Namun suasana itu berubah total. Kabar gencatan senjata selama dua pekan datang bagai angin segar, mendorong tidak hanya IHSG, tetapi juga pasar-pasar regional lainnya. Aktivitas jual-beli di Bursa Efek Indonesia pun ikut menggeliat.
Namun begitu, di balik euforia ini, ada suara yang mengingatkan untuk tidak terlalu cepat berpuas diri.
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, melihat penguatan ini lebih sebagai perbaikan sentimen sesaat. Fondasi dasarnya, menurutnya, belum banyak berubah.
"Gencatan senjata ini memberikan katalis positif dalam jangka pendek, namun sifatnya masih sementara," jelas Rully dalam keterangan resminya, Jumat (10/4/2026).
"Pasar tetap rentan terhadap perubahan sentimen apabila tidak diikuti de-eskalasi yang lebih berkelanjutan," tambahnya.
Ia juga menyoroti dua hal yang perlu terus diawasi: pergerakan rupiah dan ancaman arus keluar modal asing. Tekanan global dan defisit fiskal yang melebar menjadi latar belakangnya.
"Pergerakan rupiah masih berpotensi berada pada kisaran 16.900 hingga 17.100, sementara risiko capital outflow tetap terbuka," imbuhnya.
Dari kacamata chart, pergerakan IHSG terlihat cukup menjanjikan. Penguatan yang terjadi bahkan berhasil menembus area resistance sebelumnya, yaitu di kisaran 7.117–7.222. Muhammad Nafan Aji, Senior Technical Analyst di perusahaan sekuritas yang sama, membaca ini sebagai sinyal awal perbaikan tren. Tapi dia juga menekankan bahwa konfirmasi lebih lanjut masih diperlukan.
"Selama IHSG mampu bertahan di atas area 7.200, peluang penguatan lanjutan tetap terbuka," kata Nafan Aji.
"Namun, potensi koreksi jangka pendek tetap perlu diwaspadai setelah penguatan yang signifikan," ia mengingatkan.
Level support baru, menurut analisanya, kini ada di sekitar 7.117. Sementara resistance berikutnya mengintai di area 7.400.
Di sisi lain, di balik angka-angka hijau itu, risiko struktural tetap membayangi. Defisit APBN yang membengkak jadi 0,9% PDB dan ketidakpastian geopolitik yang belum benar-benar reda adalah dua di antaranya. Satu lagi faktor penentu yang patut ditunggu: review MSCI pada 12 Mei 2026 mendatang. Hasilnya bisa sangat mempengaruhi arah aliran dana asing ke dalam negeri.
Jadi, meski rebound-nya memberi harapan, jalan ke depan untuk IHSG tampaknya belum sepenuhnya mulus.
Artikel Terkait
Ancal Bidik 100 Ribu Wisatawan Selama Libur Panjang Iduladha
BRI Salurkan 5.000 Lebih Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia saat Idul Adha
BEI Pindahkan GOTO dan BELI ke Papan Pengembangan, 26 Saham Naik Kelas ke Papan Utama
Harga Emas Batangan di Pegadaian Turun saat Iduladha, Antam Terkoreksi ke Rp2,897 Juta per Gram