Arif melihat kedua akuisisi ini sebagai penguat ekosistem. THC akan melengkapi layanan konektivitas dan interkoneksi data center. Di sisi lain, PADA diharapkan bisa memperkuat kapabilitas pendukung bisnis secara lebih luas.
“Ini adalah bagian dari strategi terintegrasi kami untuk menawarkan solusi digital yang komprehensif, dari konektivitas lintas pulau hingga layanan last-mile FTTH menggunakan teknologi termutakhir,” ujar Arif.
Yang menarik, komitmen dari pemegang saham utama juga terlihat solid. PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara, yang menguasai 60,62% saham INET, berkomitmen penuh menyerap haknya senilai Rp1,78 triliun. Mereka bahkan siap menjadi pembeli siaga untuk saham senilai Rp1,41 triliun lagi. Ini sinyal kepercayaan yang kuat dari dalam.
Secara teknis, right issue ini akan menerbitkan 12,8 miliar saham baru dengan harga Rp250 per lembar. Rasio pelaksanannya, tiga saham lama berhak membeli empat HMETD. Ada juga insentif tambahan berupa Waran Seri II, di mana setiap 50 saham baru yang dibeli akan memberikan 9 waran dengan harga eksekusi Rp300 per saham.
Semua langkah ini menunjukkan satu hal: INET serius ingin bermain di liga yang lebih tinggi. Mereka tak hanya membangun jaringan, tapi juga menyusun puzzle bisnis digital yang lebih lengkap. Hasilnya? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
BEI Fokuskan Intervensi pada Perluasan Basis Investor Jelang Aturan Free Float
Aturan BEI Ungkap Kepemilikan Saham Andry Hakim di RMKO dan SOTS
Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Unicharm Indonesia Catat Kerugian Rp1 Triliun di 2025, Terburuk Sepanjang Sejarah