Tahun lalu benar-benar jadi tahun yang berat bagi PT Uni-Charm Indonesia Tbk. Produsen popok dan pembalut ternama itu mencatatkan kerugian fantastis, tembus angka Rp1 triliun. Bisa dibilang, ini adalah catatan terburuk sepanjang sejarah perusahaan.
Laporan keuangan yang dirilis Selasa (3/3/2026) menunjukkan gambaran suram. Pendapatan Unicharm anjlok cukup signifikan, 17 persen, hingga hanya tersisa Rp7,98 triliun. Memang, penjualan lewat jaringan Alfamart dan Indomaret masih lumayan stabil di angka Rp2,67 triliun. Tapi, itu jelas tak cukup.
Masalah besarnya ada di penjualan ke pihak ketiga, yang rontok cukup dalam. Menurut sejumlah analis, lesunya daya beli masyarakat dan persaingan yang makin ketat di pasar popok bayi jadi biang keroknya. Konsumen sekarang lebih banyak berpindah ke produk-produk dengan harga lebih terjangkau. Fenomena down-trading ini terasa sekali dampaknya.
Perusahaan sebenarnya sudah berusaha menghemat. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan 12 persen. Sayangnya, langkah itu seperti menahan gelombang dengan tangan kosong. Laba kotor tetap terperosok 39 persen ke posisi Rp1,2 triliun. Margin laba kotornya pun tergerus, dari yang semula 20 persen kini tinggal 15 persen.
Tekanan pada margin itu akhirnya berujung pada kerugian operasional. Alhasil, sebelum pajak pun perusahaan sudah kebobolan Rp835 miliar. Padahal, setahun sebelumnya, di 2024, mereka masih bisa mencetak laba Rp461 miliar. Sungguh sebuah pembalikan situasi yang dramatis.
Kerugian bersihnya bahkan lebih dalam, mencapai Rp1,2 triliun di tahun 2025. Bandingkan dengan tahun 2024 di mana mereka masih meraup keuntungan bersih Rp350 miliar.
Artikel Terkait
Aturan BEI Ungkap Kepemilikan Saham Andry Hakim di RMKO dan SOTS
Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Pemerintah Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Imbas Penutupan Selat Hormuz
BEI dan KSEI Mulai Publikasi Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen