Unicharm Indonesia Catat Kerugian Rp1 Triliun di 2025, Terburuk Sepanjang Sejarah

- Selasa, 03 Maret 2026 | 19:30 WIB
Unicharm Indonesia Catat Kerugian Rp1 Triliun di 2025, Terburuk Sepanjang Sejarah

Tahun lalu benar-benar jadi tahun yang berat bagi PT Uni-Charm Indonesia Tbk. Produsen popok dan pembalut ternama itu mencatatkan kerugian fantastis, tembus angka Rp1 triliun. Bisa dibilang, ini adalah catatan terburuk sepanjang sejarah perusahaan.

Laporan keuangan yang dirilis Selasa (3/3/2026) menunjukkan gambaran suram. Pendapatan Unicharm anjlok cukup signifikan, 17 persen, hingga hanya tersisa Rp7,98 triliun. Memang, penjualan lewat jaringan Alfamart dan Indomaret masih lumayan stabil di angka Rp2,67 triliun. Tapi, itu jelas tak cukup.

Masalah besarnya ada di penjualan ke pihak ketiga, yang rontok cukup dalam. Menurut sejumlah analis, lesunya daya beli masyarakat dan persaingan yang makin ketat di pasar popok bayi jadi biang keroknya. Konsumen sekarang lebih banyak berpindah ke produk-produk dengan harga lebih terjangkau. Fenomena down-trading ini terasa sekali dampaknya.

Perusahaan sebenarnya sudah berusaha menghemat. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan 12 persen. Sayangnya, langkah itu seperti menahan gelombang dengan tangan kosong. Laba kotor tetap terperosok 39 persen ke posisi Rp1,2 triliun. Margin laba kotornya pun tergerus, dari yang semula 20 persen kini tinggal 15 persen.

Tekanan pada margin itu akhirnya berujung pada kerugian operasional. Alhasil, sebelum pajak pun perusahaan sudah kebobolan Rp835 miliar. Padahal, setahun sebelumnya, di 2024, mereka masih bisa mencetak laba Rp461 miliar. Sungguh sebuah pembalikan situasi yang dramatis.

Kerugian bersihnya bahkan lebih dalam, mencapai Rp1,2 triliun di tahun 2025. Bandingkan dengan tahun 2024 di mana mereka masih meraup keuntungan bersih Rp350 miliar.

Persaingan di bisnis popok dan pembalut memang sedang panas-panasnya. Banyak pemain baru bermunculan, langsung menekan pemain lama seperti Unicharm yang mengandalkan merek andalan MamyPoko dan Charm. Sebagai respons, perusahaan mencoba meluncurkan lini produk lebih ekonomis dengan merek Fitti. Namun begitu, hasilnya belum terlihat, belum cukup untuk mengubah arah angin.

Di tengah semua berita buruk itu, ada sedikit titik terang. Arus kas operasi Unicharm ternyata masih positif, malah naik jadi Rp435 miliar dari sebelumnya Rp395 miliar di akhir 2024. Posisi kas mereka juga masih tebal, mencapai Rp1,96 triliun per akhir Desember 2025. Setidaknya, dari sisi likuiditas, mereka masih punya napas.

Neraca keuangannya secara keseluruhan juga masih terbilang solid. Piutang usai berkurang jadi Rp1,88 triliun, sementara persediaan barang naik ke level Rp1,22 triliun. Yang patut dicatat, perusahaan ini tidak punya utang berbunga sama sekali. Itu menunjukkan pola pengelolaan yang hati-hati.

Ekuitasnya, meski terkikis 22 persen akibat kerugian besar tadi, masih berada di angka Rp4,6 triliun. Jadi, meski luka di laba rugi terlihat parah, pondasi perusahaannya belum sepenuhnya goyah.

(Rahmat Fiansyah)

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar