Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan

- Jumat, 09 Januari 2026 | 04:06 WIB
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan

Macet di Sawangan, Depok, sudah jadi cerita lama. Setiap pagi dan sore, ruas jalan di kecamatan itu berubah jadi lautan kendaraan yang nyaris tak bergerak. Pemerintah Kota Depok akhirnya angkat bicara dan mengumumkan sejumlah langkah konkret untuk mengurai benang kusut ini.

Wali Kota Depok, Supian Suri, menyebut rekayasa lalu lintas akan segera diterapkan. Rencananya, sistem satu arah bakal dijalankan di beberapa titik.

“Konsepnya nanti dari arah Sawangan menuju Yapan itu akan satu arah. Dari Parung Bingung ke bawah, kemudian dari Sawangan menuju ke sini, dekat Rumah Makan Tirta Rasa, akan belok ke kiri. Sehingga alur kendaraan relatif pasti akan lebih lancar,”

ujar Supian usai meresmikan Lapangan Mini Soccer di Kelurahan Baktijaya, Kamis lalu.

Anggaran Besar untuk Pelebaran

Namun begitu, rekayasa lalu lintas saja tak cukup. Solusi jangka panjangnya adalah membenahi infrastruktur. Untuk itu, Pemkot Depok menggelontorkan anggaran yang tak sedikit sekitar Rp 100 miliar khusus untuk pelebaran Jalan Raya Sawangan. Prosesnya sudah dimulai.

“Ya alhamdulillah, Jalan Raya Sawangan, Jalan Pemuda, dan Jalan Enggram itu sudah kita bebaskan kurang lebih Rp 40 miliar. Dan kemarin memang ada tiga bidang yang belum bersedia, tapi alhamdulillah dari informasi terakhir sudah berkenan dengan pembebasan lahan yang kita lakukan,”

kata Supian lagi. Menurutnya, kini tinggal eksekusi fisik pelebaran di Jalan Enggram dan Jalan Pemuda. Tak cuma itu, pembebasan lahan juga akan berlanjut ke wilayah Parung Bingung.

Dan ada lagi. Dua jembatan di wilayah Sawangan juga akan diperlebar. Ini penting untuk mendukung kelancaran arus lalu lintas nantinya.

“Termasuk tahun ini juga kita akan membangun pelebaran jembatan di jalan turun dari Parung Bingung menuju ke arah Sawangan. Ada dua jembatan yang akan kita bangun sehingga mendukung pelebaran Jalan Raya Sawangan, Jalan Enggram, dan Jalan Pemuda,”

tambahnya.

Suara Warga yang Akrab dengan Kemacetan

Lalu, bagaimana kondisi di lapangan? Kamis pagi pekan lalu, kemacetan lagi-lagi terjadi. Volume kendaraan yang tinggi bertemu dengan ruas jalan yang sempit, hasilnya sudah bisa ditebak: jalanan macet total.

Wisnu, seorang pengendara motor berusia 30 tahun, mengeluh. Ia setiap hari harus melewati jalan ini untuk berangkat kerja.

“Saya kalau kerja memang lewat sini. Jalan di wilayah sini memang perlu pelebaran, lihat saja jalurnya kecil,”

katanya. Menurutnya, lebar jalan yang cuma cukup untuk dua mobil bikin semua orang susah menyalip. Apalagi kalau volume kendaraan lagi padat.

Keluhan serupa datang dari Yusa (34). Bagi dia, macet di Sawangan adalah menu harian.

“Tiap hari saya berhadapan dengan macet di jalur sini. Jalan di wilayah sini itu kurang lebar, ditambah ada Transjakarta,”

ujarnya.

Ukuran bus Transjakarta yang besar, menurut Yusa, jadi masalah lain. Satu lajur jalan seolah tertutup, mempersulit motor untuk mendahului. Akibatnya, kendaraan menumpuk di belakang bus.

“Kondisi jalan di Jakarta saja itu bisa makan tempat, makanya dikasih jalur khusus. Nah, di Sawangan jalurnya tidak ada, tapi dipaksakan. Ya memang ada dampaknya buat orang-orang yang perjalanan jauh,”

katanya. Intinya, ketiadaan jalur khusus untuk Transjakarta dinilai justru memperparah kemacetan yang sudah ada.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar